Saturday, June 18, 2011

MANAGEMENT


SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU MANAJEMEN

Banyak kesulitan yang terjadi dalam melacak sejarah manajemen. Namun diketahui bahwa ilmu manajemen telah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Hal ini dibuktikan dengan adanya piramida di Mesir. Piramida tersebut dibangun oleh lebih dari 100.000 orang selama 20 tahun. Pembangunan piramida ini tak mungkin terlaksana tanpa adanya seseorang yang merencanakan, mengorganisasikan dan menggerakan para pekerja, dan mengontrol pembangunannya.Praktik-praktik manajemen lainnya dapat disaksikan selama tahun 1400-an di kota Venesia, Italia, yang ketika itu menjadi pusat perekonomian dan perdagangan di sana.

PEMIKIRAN AWAL MANAJEMEN
Pada abad 19, terjadi dua peristiwa penting dalam ilmu manajemen. Peristiwa pertama terjadi pada tahun 1776, ketika Adam Smith menerbitkan sebuah doktrin ekonomi klasik, The Wealth of Nation. Dalam bukunya itu, ia mengemukakan keunggulan ekonomis yang akan diperoleh organisasi dari pembagian kerja (division of labor), yaitu perincian pekerjaan ke dalam tugas-tugas yang spesifik dan berulang. Smith menyimpulkan bahwa pembagian kerja dapat meningkatkan produktivitas dengan cara:
(1) meningkatnya keterampilan dan kecekatan tiap-tiap pekerja
(2) menghemat waktu yang terbuang dalam pergantian tugas,
(3) menciptakan mesin dan penemuan lain yang dapat menghemat tenaga kerja.
Peristiwa penting kedua yang mempengaruhi perkembangan ilmu manajemen adalah Revolusi Industri di Inggris. Revolusi Industri menandai dimulainya penggunaan mesin, menggantikan tenaga manusia, yang berakibat pada pindahnya kegiatan produksi dari rumah-rumah menuju tempat khusus yang disebut pabrik. Perpindahan ini mengakibatkan manajer-manajer ketika itu membutuhkan teori yang dapat membantu mereka meramalkan permintaan, memastikan cukupnya persediaan bahan baku, memberikan tugas kepada bawahan, mengarahkan kegiatan sehari-hari, dan lain-lain, sehingga ilmu manajamen mulai dikembangkan oleh para ahli.  
Di dalam ilmu manajemen dikenal tiga aliran yang masing-masing berusaha membantu manajer untuk memahami,memimpin organisasi, dan mengatasi masalah-masalahnya. Aliran tersebut meliputi:
1.      Aliran klasik
Airan klasik ini dibagi ke dalam dua era, yakni:
a.      Era Manajemen Ilmiah (Scientific Management)
Aliran ini dipelopori oleh Robert Owen (1771-1858) dan Charles Babbge (1792-1871). Robert Owen berpendapat bahwa peningkatan kondisi karyawan (misalnya:perumahan, jam kerja, koperasi yang menjual kebutuhan karyawa dengan harga murah, dan sebagainya) dapat meningkatkan hasil produksi dan laba. Robert Owen juga menekankan bahwa unsure pekerja merupakan unsur terpenting dalam proses produksi (pekerja disebutnya vital machines = mesin utama)
Charles Babbge berpendapat bahwa penerapan prinsip-prinsip ilmiah dalam proses kerja dapat meningkatkan produktivitas dan dapat menekan biaya menjadi lebih rendah. Charles Babbge mengemukakan bahwa seorang pekerja dapat dilatih suatu ketrampilan tertentu, dan harus bertanggung jawab terhadap bagian yang dikerjakan dengan ketrampilan tersebut. Sampai saat ini ide ini masih digunakan dalam kegiatan perakitan.
Frederich W. Taylor dalam bukunya yang berjudul Principle of Scientific Management mendskripsikan manajemen ilmiah ialah penggunaan metode ilmiah untuk menentukan cara terbaik dalam menyelesaikan suatu pekerjaan. Ia berpendapat ada 4 prnsip untuk menaikan produktifitas, yakni:
1.      Perubahan metode kerja untuk setiap elemen dari pekerjaan yang ditelaah secara ilmiah
2.      Seleksi dan pelatihan para pekerja dengan metode ilmiah
3.      Kerjasama antara majikan dan pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan secara ilmiah
4.      Pembagian tanggung jawab antara pimpinan dan pekerja secara lebih merata
Henry Gantt yang pernah bekerja bersama Taylor di Midvale Steel Company menggagas ide bahwa seharusnya seorang mmpu mandor member pendidikan kepada karyawannya untuk bersifat rajin dan kooperatif. Ia juga mendesain sebiah grafik untuk membantu manajemen yang disebut sebagai Gantt chart yang digunakan untuk merancang dan mengontrol pekerjaan.
Manajemen ilmiah kemudian dikembangkan lebih jauh oleh pasangan suami-istri Frank dan Lilian Gilberth. Keluarga Gilberth berhasil menciptakan micromition yang dapat mencatatan setiap gerakan yang dilakukan oleh pekerja lamanya waktu yang dihabiskan untuk melakukan setiap  gerakan tersebut.
b.      Organisasi klasik
Aliran ini dikembangkan Henry Fayol, Ia merinci operasi perusahaan ke dalam 6 kegiatan, yaitu:
1.      Teknis (technical)
2.      Komersial (commercial)
3.      Keuangan (fianancial)
4.      Keamanan (security)
5.      Akuntansi (accounting)
6.      Manajerial
Selanjutnya Fayol mambagi manajemen dalam hubungannya dengan lima fungsi yaitu:
1.      Perencanaan (planning)
2.      Pengorganisasian (organizing)
3.      Pemberian perintah (commanding)
4.      Pengkoordinasian (coordinating)
5.      Pengawasan (controlling)
Hal penting yang dikemukakan Fayol adalah 14 prinsip-prinsip manajemen, yaitu;
1.      Pembagian kerja
2.      Otoritas
3.      Disiplin
4.      Kesatuan perintah
5.      Kesatuan arah
6.      Pengutamaan kepentingan umum
7.      Pengupahan yang adil
8.      Pemusatan
9.      Hierarki
10.  Teratur
11.  Keadilan
12.  Kestabilan staf
13.  Inisiatif
14.  Semangat kelompok
Sumbangan penting lainnya datang dari ahli sosiologi Jerman Marx Weber. Weber menggambarkan suatu tipe ideal organisasi disebut sebagai birokrasi bentuk organisasi yang dicirikan oleh pembagian kerja, hierarki yang didefinisikan dengan jelas, peraturan dan ketetapan yang rinci, dan sejumlah hubungan yang impersonal. Namun, Weber menyadari bahwa bentuk “birokrasi yang ideal” itu tidak ada dalam realita. Dia menggambarkan tipe organisasi tersebut dengan maksud menjadikannya ebgai landasan untuk berteori tentang bagaimana pekejaan dapat dilakukan dalam kelompok besar. Teorinya tersebut menjadi contoh desain structural bagi banyak organisasi besar sekarang ini.
Perkembangan selanjutnya terjadi tahun 1940-an ketika Patrick Blackett melahirkan ilmu riset oprasi, yang merupakan kombinasi dari teori statistika dengan teori mikroekonomi. Riset oprasi, sering dikenal dengan “Sains Manajemen”, mencoba pendekatan sains untuk pendekatan sains untuk menyelesaikan masalah dalam manajemen, khususnya di bidang logistic dan oprasi. Pada tahun 1946 Peter F Drucker sering diswbut sebagai bapak ilmu manajemen menerbitkan salah satu buku paling awal tentang manajemen terapan:” konsep korporasi”. Buku ini muncul atas ide Alfred Slowan yang menugaskan tentang penelitian organisasi.

1.      Aliran perilaku
Aliran perilaku berkembang sebab aliran klasik dipandang tidak benar-benar membantu percapaian efisiensi produksi dan keserasian tempat kerja. Oleh karna itu dicari upaya untuk membantu manajer mengatasi masalah organisasi melalui sisi perilaku karyawan. Aliran ini muncul pada era manusia social.
Tokoh-tokoh dalam aliran ini:
1.      Hugo Munsterberg. Sumbangan utamanya adalah penerapan psikologi dalam membantu peningkatan produksi melalui tiga cara yaitu, a. mendapatkan orang yang cocok. B. dapat menciptakan kondisi kerja yang baik, c. memotivasi karyawan.
2.      Elton Mayo. Ia terkenal dengan eksperimen tentang perilaku manusia dalam situasi kerja. Eksperimen itu disebut eksperimen Hawthorne. Dari eksperimen ini disimpulkan bahwa perhatian khusus dapat menyebabkan seseorang meningkatkan usahanya. Gejala ini di sebut Hawthorne effect.
3.      Kontribusi lainnya datang dari Mery Parker Follet yang mendapatkan pendidikan dibidang filosofi dan ilmu politik menjadi terkenal setelah menerbitkan buku berjudul Creatif Experience pada tahun 1924. Follet  mengajukan suatu filosofi bisnis yang mengutamakan integrasi sebagai cara untuk mengurangi konflik tanpa kompromi atau dominasi. Follet juga percaya bahwa tugas seorang pemimpin adalah untuk menentukan tujuan organisasi dan mengintegrasikannya dengan tujuan individu dan tujuan kelompok. Dengan kata lain ia berfikir bahwa organisasi pada dasarnya  organisasi harus didasarkan pada etika kelompok daripada individualisme. Dengan demikian, manajer dan karyawan seharusnya memandang diri mereka sebagai mitra, bukan lawan.
4.      Pada tahun 1938, Chester Barnard (1886–1961) menulis buku berjudul The Functions of the Executive yang menggambarkan sebuah teori organisasi dalam rangka untuk merangsang orang lain memeriksa sifat sistem koperasi. Melihat perbedaan antara motif pribadi dan organisasi, Barnard menjelaskan dikotonomi "efektif-efisien". Menurut Barnard, efektivitas berkaitan dengan pencapaian tujuan, dan efisiensi adalah sejauh mana motif-motif individu dapat terpuaskan. Dia memandang organisasi formal sebagai sistem terpadu di mana kerjasama, tujuan bersama, dan komunikasi merupakan elemen universal, sementara pada organisasi informal, komunikasi, kekompakan, dan pemeliharaan perasaan harga diri lebih diutamakan. Barnard juga mengembangkan teori "penerimaan otoritas" didasarkan pada gagasan bahwa bos hanya memiliki kewenangan jika bawahan menerima otoritas itu.
2.      Aliran ilmu manajemen
Aliran ini mengembangkan prosedur penelitian operasional (operational research = OR) dalam menghadapi masalah organisasi. Prosedur yang digunakan dimulai dari analisis masalah sampai dengan usulan kegiatan untuk mengatasi masalah tersebut. Aliran ini muncul pada era modern, di abad 20, dengan hadirnya konsep manajemen kualitas total (total quality management-TQM). W. Edwards Deming, dikenal sebagai Bapak Kontrol Kualitas, berpendapat bahwa kebanyakan permasalahan dalam kualitas bukanlah kesalahan pekerja, melainkan sistemnya. Ia menekankan pentingnya meningatkan kualitas dengan mengajukan teori lima langkah reaksi berantai. Ia berpendapat bila kualitas dapat ditingkatkan,
(1) biaya akan berkurang karena berkurangnya biaya perbaikan, sedikitnya kesalahan, minimnya penundaan, dan pemanfaatan yang lebih baik atas waktu dan material
(2) produktivitas meningkat
(3) market share meningkat karena peningkatan kualitas dan harga
(4) profitabilitas perusahaan peningkat sehingga dapat bertahan dalam bisnis
(5) jumlah pekerjaan meningkat
Deming mengembangkan 14 poin rencana untuk meringkas pengajarannya tentang peningkatan kualitas.
Kontribusi kedua datang dari Joseph Juran. Ia menyatakan bahwa 80 persen cacat disebabkan karena faktor-faktor yang sebenarnya dapat dikontrol oleh manajemen. Ia merujuk pada "prinsip pareto." Dari teorinya, ia mengembangkan trilogi manajemen yang memasukkan perencanaan, kontrol, dan peningkatan kualitas. Juran mengusulkan manajemen untuk memilih satu area yang mengalami kontrol kualitas yang buruk. Area tersebut kemudian dianalisis, kemudian dibuat solusi, dan diimplementasikan.
Mendekati akhir abad 20, manajemen terdiri dari beberapa bidang terpisah, termasuk:
·         Manajemen Sumber daya manusia
·         Manajemen operasi atau produksi
·         Manajemen strategi
·         Manajemen pemasaran
·         Manajemen keuangan
·         Manajemen informasi teknologi
Selain ketiga aliran tersebut, dalam perkembangan ilmu manajemen telah dikembangkan pula dua bentuk pendekatan yang berusaha mengintegrasikan ketiga aliran tersebut.
1.      Pendekatan system
Dalam pendekatan sistem, organisasi dipandang sebagai suatu kesatuan yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan. Jadi,dalam pendekatan ini manajer diajak untuk memandang organisasi sebagai suatu kesatuan, yang merupakan bagian dari lingkungan eksternal yang lebih luas. Dengan demikian dalam teori sistem dijelaskan bahwa kegiatan setiap bagian dalam organisasi akan mempengaruhi kegiatan bagian lain.
2.      Pendekatan kontigensi
Pendekatan kontigensi dikembangkan karena sering dijumpai metode-metode yang efektif untuk situasi tertentu yang ternyata tidak dapat diterapkan pada situasi lain. Menurut pendekatan ini, tugas seorang manajer adalah mengidentifikasi teknik mana yang akan digunakan dalam situasi dan waktu tertentu dalam membantu pencapaian tujuan. Jadi, dalam pendekatan kontigensi, satu jawaban yang dianggap paling tepat untuk mengatasi masalah manajemen adalah bergantung pada situasi yang dihadapi oleh manajemen. Jawaban ini didasarkan pada suatu kenyataan bahwa situasi, aksi dan hasil merupakan faktor yang saling mempengaruhi dan tergantung satu sama lainnya.





DAFTAR PUSTAKA

·         Udaya Jusuf, Drs.,dkk. Penganatr Ilmu Manajemen. PT Gramedia : Jakarta. 1996
·         Panglakym, Dr. Manajemen Suatu Pengantar. Ghalia Indonsia : Jakarta. 1991
·         Hardjito Dydiet, Drs. Teori Organisasi dan Teknik Pengorganisasian. Raja Grafindo Persada : Jakarta. 1997

Friday, June 17, 2011

PENDIDIKAN Islam DI ERA GLOBALISASI


KATA PENGANTAR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Alhamdulillahirobbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah SWT atas segala limpahan nikmat dan karunia-Nya berupa rahmat, hidayah, dan inayah-Nya serta kesehatan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini. Shalawat dan salam penulis sampaikan kepada Nabi Muhammad Rasulullah SAW.
Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua orang yang selama ini menemani penulis terutamanya orang tua dan keluarga penulis. Ucapan terima kasih penulis haturkan kepada bapak Dr. Phil. Khoirun Niam yang telah membimbing penulis dalam mata perkuliahan TPKI (Teknis Penulisan Karya Ilmiah). Tidak terlupa, penulis terima kasih kepada teman-teman penulis di kelas B Semester I jurusan Pendidikan Matematika yang turut menghiasi hari-hari penulis dan memotivasi penulis agar lebih memaknai hidup.
Penulis menyadari sepenuhnya, makalah ini masih banyak kekurangan dan bahkan menimbulkan banyak pertanyaan yang belum sempat terjawab. Oleh karena itu, kritik, saran dan masukan yang konstruktif sangat penulis harapkan dari berbagai kalangan demi perbaikannya ke depan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca, terutama bagi mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya. Bagi penulis, semoga mendapat ridho Allah, sebagai amal sholeh dan menjadi ilmu yang bermanfaat fid al danya wa al akhirat. Amin....


Surabaya, 05 Januari 2010
Siti Kholifatur Rofi’ah
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Arus globalisasi saat ini menimbulkan banyak sekali perubahan dari segala aspek kehidupan. Perubahan ini tidak dapat dihindari akibat ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih. Hal ini menggugah kesadaran masyarakat umum akan pentingnya pendidikan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan kewajiban bagi mereka.
Di era globalisasi ini, Dunia pendidikan mau tak mau harus menerima perkembangan zaman dan kemajuan teknologi yang sebagian besar bersumber dari negara-negara barat seperti: televisi, handphone, komputer dan lain-lain, tidak terkecuali pendidikan Islam yang tidak bisa lepas dari bias fenomena globalisasi ini, karena tidak mungkin pendidikan Islam hanya melalui cara-cara dasar yang seperti ceramah dalam menyampaikan materi. Tetapi pendidikan yang berbasis teknologi dalam penyampaiannya terbukti dengan adanya LCD, laboratorium bahasa.
Walaupun demikian umat Islam harus bisa membentengi pendidikan Islam itu sendiri. apabila tidak bisa melakukannya maka yang akan terjadi adalah pendidikan Islam akan melenceng dari ajaran-ajaran Islam Nabi ketika perjalanan hidup tidak lepas dari teknologi yang berjalan cepat dihadapan umat Islam. maka tidak seharusnya mereka hanya menyibukkan dirinya dengan kehidupan yang berbau teknologi tetapi yang harus mereka lakukan yaitu menerima globalisasi tanpa harus melupakan perbuatan dalam ajaran Islam untuk mendapat kebahagiaan dunia akhirat.
B.     Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini yaitu:
  • Bagaimana pendidikan Islam di era globalisasi?
C.    Tujuan
Dari rumusan masalah di atas, tujuan penulis makalah ini adalah:
  • Untuk mengetahui pendidikan Islam di era globalisasi ini.
BAB II
PENDIDIKAN ISLAM

A.    Pengertian Pendidikan Islam
Pada saat ini dunia pendidikan memiliki banyak cabang , di antaranya pendidikan bahasa Inggris, pendidikan Kewarganegaraan, pendidikan Dasar Matematika, pendidikan Islam dan lain-lain. dalam bab ini yang akan dibahas adalah tentang pendidikan Islam. istilah pendidikan Islam berasal dari gabungan dua kata yaitu kata “pendidikan” dan “Islam”. dalam bahasa Arab, pendidikan Islam dikenal dengan At Tarbiyatul Al Islamiyah (التّربيّة الاسلامية). Adapun  dalam bahasa Inggris sering disebut Islamic Education.
Kata pendidikan yaitu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.[1] Sedangkan Islam yaitu agama universal yang Allah perintahkan kepada seluruh manusia dan imani Rosul-Rosulnya.[2] Jadi pendidikan Islam yaitu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran tentang Agama Universal.
Seluruh umat manusia harus mengetahui tentang pendidikan Islam secara keseluruhan agar memantapkan keimanan dan ketaatan untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT. apabila mereka tidak mengetahui tentang pendidikan Islam sama saja, mereka hanya Islam dalam KTP (Islam KTP). Pada hakikatnya, mereka mengakui bahwa mereka beragama Islam, tetapi mereka tidak mengetahui apa agama Islam itu.
Pendidikan Islam dapat dijumpai di berbagai lembaga-lembaga yang berbasis Islami mulai dari tingkat rendah sampai tingkat yang paling tinggi, seperti : MI, pondok pesantren, MTs, MA, IAIN, dan lain-lain. Namun pendidikan Islam juga bisa diperoleh di lembaga-lembaga umum misalnya : SD, SMP, SMA, SMK, dan lain-lain, sebagai salah satu mata pelajaran.
Pendidikan Islam dikaitkan dengan konsepsi kejadian manusia yang sejak awal kejadiannya sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna yang dibekali potensi akal dan ilmu.[3] Hal ini merupakan sebuah bukti bahwa manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna harus bisa menjadi khalifah yang berilmu dan bertanggungjawab atas apa yang telah dipimpinnya.

B.     Dasar dan Tujuan Pendidikan Islam
Setiap pengetahuan atau ilmu mempunyai dasar-dasarnya. Dasar pendidikan Islam adalah Al-Qur’an dan Al-Hadits (sunah Nabi). Di atas kedua pilar ini dibangun konsep dasar pendidikan Islam.[4] Menuntut ilmu adalah instruksi agama, karena ilmu merupakan salah satu bekal manusia di alam kubur agar tidak tersiksa di alam baqa’. Allah SWT. memerintahkan manusia untuk membaca sesuai firman-Nya :
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ.(١) خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ.(٢) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأكْرَمُ.(٣) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ.(٤) عَلَّمَ الإنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ.(٥)

Artinya:
“Bacalah engkau (Muhammad) dengan nama Tuhanmu yang menjadikan (segala makhluk) yang menjadi manusia daripada segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu adalah yang paling Maha Mulia yang mengajar dengan (perantara) kalam. Ia (Allah) yang mengajar manusia apa yang mereka tidak tahu”. (QS. Al-‘Alaq : 1-5).[5]
Demikian juga dalam hadits Nabi perintah menuntut ilmu sebagai kewajiban yang harus dilakukan umat Islam, meskipun tempat menuntut ilmu di daerah non Muslim, seperti hadits Nabi:
اطلى العلم ولو بالصين.
Artinya:
            “Carilah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina.”
Tujuan dari Pendidikan Islam adalah sebagai berikut:
1.      Mengarahkan manusia agar menjadi khalifah Tuhan muka bumi dengan sebaik-baiknya, yaitu melaksanakan tugas memakmurkan dan mengolah bumi sesuai dengan aturan-aturan dan kehendak Tuhan.
2.      Mengarahkan manusia agar tugas kekhalifahannya di muka bumi dilaksanakan dalam rangka beribadah kepada Tuhan SWT.
3.      Mengarahkan manusia agar berakhlak mulis, sehingga  ia tidak menyalahgunakan fungsi kekhalifahannya.
4.      Membina dan mengarahkan potensi akal, jiwa dan jasmaninya, sehingga ia memiliki ilmu, akhlak dan ketrampilan untuk mendukung tugas pengabdian dan kekhalifahanya.
5.      Mengarahkan manusia agar dapat mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat”.[6]
Pendidikan Islam berfungsi membina dan menyiapkan peserta didik yang berilmu, berteknologi, beriman, dan beramal sholeh. Untuk melahirkan manusia yang baik (ahsan) agar bisa menjalankan kekhalifahannya di muka bumi. Semua dilakukan hanya semata-mata untuk beribadah kepada Allah. hal ini diperkuat dengan firman Allah:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ. (٥٦)
Artinya:
“Tidaklah kami menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah”.[7]

C.    Lembaga Pendidikan Islam
Pendidikan Islam telah dimulai di Indonesia sejak masuknya Islam ke wilayah ini. Pendidikan Islam mulanya berlangsung di daerah-daerah pesisir pantai. Mereka berdagang sambil mengajarkan agama Islam setelah masyarakat Muslim terbentuk kemudian di bangun masjid sebagai tempat ibadah dan mengajarkan pendidikan Islam melalui ceramah, membaca Al-Qur'an dan lain-lainnya. selanjutnya muncullah lembaga pendidikan yang khusus untuk proses pembelajaran yang disebut pesantren.
Menurut Haidar Putra, “lembaga pendidikan Islam terdiri dari 3 bentuk, pertama lembaga pendidikan informal yaitu yang berlangsung di rumah tangga. Kedua, lembaga pendidikan non formal yang berlangsung di masyarakat. ketiga, lembaga pendidikan formal yang berlangsung di sekolah. Khusus lembaga pendidikan formal ada empat jenis bentuknya, yakni pesantren, sekolah, madrasah, dan perguruan tinggi”.[8]
Sedangkan menurut Ungguh Muliawan, “lembaga pendidikan Islam menurut bentuknya dapat dibedakan menjadi 2 yaitu, lembaga pendidikan di luar sekolah dan lembaga pendidikan di dalam sekolah”. Lembaga pendidikan di luar sekolah yang dimaksud yaitu lembaga nonformal seperti keluarga, masyarakat, tempat peribadatan, TPA, pesantren. Sedangkan lembaga pendidikan di dalam sekolah (formal) seperti sekolah Islam madrasah dan perguruan tinggi Islam”.[9]
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam dapat diperoleh di mana saja dan kapan saja. Dalam pandangan Ungguh Muliawan bahwa pendidikan di luar sekolah secara hierarkis menduduki tempat pertama (paling konkrit) sekaligus terakhir (paling filosofis) dengan beberapa alasan. Alasan pertama, menurut urutan proses, pendidikan di luar sekolah lebih awal dan akhir didapat oleh peserta didik dibandingkan pendidikan di dalam sekolah. Alasan lain secara Akumulatif ruang dan waktu, pendidikan yang didapat oleh peserta didik di dalam lingkungan persekolahan secara umum relatif lebih sedikit dibandingkan di luar sekolah.[10]

BAB III
GLOBALISASI

A.    Pengertian Globalisasi
Menurut wikipedia, “kata globalisasi di ambil dari kata global yang maknanya universal. Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan kecuali sekitar definisi kerja (working definition), sehingga tergantung dari sisi mana orang melihatnya.[11] Dari perbedaan orang-orang memandang globalisasi maka muncullah masyarakat yang menerima globalisasi (masyarakat pro-globalisasi) dan masyarakat yang menolak globalisasi (masyarakat anti globalisasi).
Setiap manusia tidak bisa terhindar dari arus globalisasi ini, kecuali dia tidak menjalin kontak dengan orang lain, tidak melihat acara-acara di televisi, tidak mendengarkan radio, dan dia hidup dengan apa adanya. Namun, hanya segelintir manusia bisa melakukan hal seperti itu karena manusia mempunyai sifat makhluk sosial yaitu selalu membutuhkan orang lain.
“Globalisasi berawal dari transportasi dan komunikasi. Tetapi dampaknya segera terasa dalam berbagai bidang kehidupan manusia baik ekonomi, politik, perdagangan, gaya hidup, bahkan agama”.[12]  Begitu cepat masyarakat mengikuti perkembangan zaman, mereka tidak mau ketinggalan sedikitpun dari perkembangan ini. Berikut ini beberapa ciri yang menandakan semakin berkembangnya fenomena globalisasi di dunia:
    1. Perubahan dalam konsep dan waktu seperti adanya telepon genggam, televisi, dan internet menjadikan komunikasi semakin cepat.
    2. Pasar dan produksi ekonomi di negara-negara yang berbeda menjadi saling bergantung sebagai akibat dari pertumbuhan Perdagangan international.
    3. Peningkatan interaksi kultural melalui perkembangan media massa.
    4. Meningkatkan masalah bersama, misalnya pada bidang lingkungan krisis multinasional, instalasi regional, dan lain-lain.

B.     Dampak Globalisasi
Perkembangan zaman mengakibatkan gaya hidup manusia menjadi berubah yang semula mereka saling membutuhkan menjadi bersikap individualis dan tak peduli dengan orang lain. Globalisasi selain menghadirkan dampak ‘positif’ untuk hidup mudah, nyaman, murah, indah, maju. juga mendatangkan dampak ‘negatif’ yaitu menimbulkan keresahan, penderitaan dan penyesatan.
Bagi masyarakat, Globalisasi merupakan sebuah fenomena yang banyak menimbulkan dampak negatif yang di bawa oleh negara-negara Barat (terutama Amerika Serikat) dengan tujuan agar masyarakat mengikuti cara hidup di negara mereka. efek-efek negatif tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
1.      Pemiskinan nilai spiritual. Tindakan sosial yang mempunyai nilai materi (tidak produktif) dianggap sebagai tindakan yang rasional.
2.      Jatuhnya manusia dari makhluk spiritual menjadi makhluk material.
3.      Peran agama digeser menjadi urusan akhirat sedang urusan dunia menjadi wewenang sains (sekularistik).
4.      Tuhan hanya hadir dalam pikiran, lisan, tetapi tidak hadir dalam perilaku dan tindakan.
5.      Gabungan ikatan primordial dengan sistem politik melahirkan nepotisme, birokratisme, dan otoriterisme.
6.      Individualistic.
7.      Terjadinya frustasi eksistensial seperti hasrat yang berlebihan untuk berkuasa merasa hidupnya tidak bermakna.
8.      Terjadinya ketegangan-ketegangan informasi di kota dan di desa, kaya dan miskin, konsumeris.[13]

Qodri Azizy menyatakan juga bahwa globalisasi dapat berarti alat. Ketika itu, globalisasi menjadi netral artinya ia mengandung hal-hal positif jika dimanfaatkan dengan tujuan baik dan begitupun sebaliknya. Selain itu globalisasi juga bisa berarti ideologi. Ia sudah mempunyai arti tersendiri dan netralitasnya sangat berkurang menyebabkan terjadi benturan nilai ideologis globalisasi dan nilai agama. Baik sebagai alat atau ideologi, globalisasi menjadi sebagai ancaman sekaligus tantangan.[14]

BAB IV
PENDIDIKAN ISLAM DI ERA GLOBALISASI

A.    Pengaruh Globalisasi dalam Pendidikan Islam
Globalisasi sering diterjemahkan mendunia. Segala apapun yang terjadi di dunia begitu cepatnya menyebar di seluruh pelosok baik berupa data, temuan-temuan, bencana, peristiwa apapun. Semua orang di dunia bisa mengetahui semua itu melalui berbagai media seperti HP, TV, Radio. Malahan sekarang ada yang lebih canggih yaitu internet.
Azyumardi Azra  mengatakan “pendidikan Islam merupakan pendidikan manusia seutuhnya, akal dan ketrampilan dengan tujuan menyiapkan manusia untuk menjalani hidup dengan lebih baik.[15] Namun  hal itu tidak berjalan dengan lurus, karena pendidikan Islam dipengaruhi oleh arus globalisasi yang terjadi saat ini. Globalisasi merupakan ancaman besar bagi pendidikan Islam untuk mempertahankan nilai-nilai agama yang murni.
“Perubahan dalam bidang pendidikan meliputi isi pendidikan, metode pendidikan, media pendidikan, dan lain sebagainya. salah satu aspek yang amat besar pengaruhnya adalah kurikulum.”[16]
Kurikulum bersifat fleksibel sehingga bisa menerima perubahan-perubahan sesuai dengan perkembangan zaman. Namun mengakibatkan para guru kebingungan dalam menyampaikan materi. Hal ini tidak dirasakan guru saja tapi juga dialami para peserta didik. Terutama mereka yang berada pada tingkat TK (taman kanak-kanak). Mereka yang seharusnya masih bermain dan bernyanyi, mereka dituntut untuk menghafal angka-angka dengan versi bahasa Inggris, ini berlaku juga di TK Islam.
Pendidikan Islam nampaknya masih terkungkung dalam posisi defensif (untuk tidak mengatakan tertinggal) dan tidak mempunyai posisi tawar yang kuat, apalagi ke arah otensif dalam peradaban dunia. padahal pendidikan Islam sarat dengan muatan moral dan spiritual bisa berfungsi, menjadi terapi tragedi kemanusiaan akibat dampak globalisasi.

B.    Tantangan Pendidikan Islam di Era Globalisasi
Pendidikan Islam di zaman ini menghadapi tantangan-tantangan yang serius untuk  tetap eksis di dunia pendidikan. Adapun tantangannya adalah sebagai berikut: “Pertama, orientasi dan tujuan pendidikan. Kedua, pengelolaan (manajemen) sistem manajemen ini yang akan mempengaruhi dan mewarnai keputusan dan kebijakan yang diterapkan dalam sebuah lembaga pendidikan. Ketiga, hasil (out put). Bagaimana produk yang dihasilkan dari sebuah lembaga pendidikan bisa dilihat dari kualitas luaran (out putnya).[17]
Dalam pandangan Haidar Putra Daulay menjelaskan “tantangan globalisasi bagi pendidikan Islam yaitu masalah kualitas. era global adalah era pesaing bebas. Maka akan terjadi pertukaran antar negara baik resmi maupun tidak.[18] pertukaran manusia, barang, jasa, teknologi dan lain-lain adalah hal yang dipersaingan dalam era global ini. Untuk itu perlu dibentuk manusia yang unggul jadi kualitas SDM sangat penting untuk menentukan kualitas lembaga pendidikan, negara dan agama.
Selain tantangan kualitas juga tantangan moral era globalisasi banyak membawa dampak negatif generasi muda sekarang sudah terpengaruh dengan pergaulan yang global. Hal-hal yang tidak  semestinya dilakukan oleh generasi muda seperti minum miras, menggunakan narkoba, melakukan seks bebas malahan menjadi kebiasaan bagi mereka. moral mereka bisa dikatakan seperti moral syaitan. Mereka hanya mengikuti hawa nafsu belaka tanpa memikirkan akibatnya. Berkenaan itu maka pendidikan Islam harus semakin diefektifkan di lingkungan lembaga pendidikan Islam.

C.   Peluang Pendidikan Islam di Era Globalisasi
Dr. A. Qodri Azizi (2003 : 19) menyatakan “pada prinsipnya globalisasi mengadu pada perkembangan-perkembangan yang cepat dalam teknologi, komunikasi, transformasi dan informasi yang bisa membawa bagian-bagian dunia yang jauh menjadi mudah untuk dijangkau.[19] Dari perkembangan yang cepat di berbagai bidang inilah, pendidikan Islam bisa berpeluang besar untuk menyebarkan ajaran Islam dengan cepat pula. Menurut tim penyusun IAIN Sunan Ampel, agar Islam dapat berarti bagi masyarakat global maka Islam diharapkan tampil dengan nuansa sebagai berikut:
Pertama, menampilkan Islam yang lebih ramah dan sejuk, sekaligus menjadi pelipur lara bagi kegarahan hidup modern.
Kedua, menghadirkan Islam yang toleran terhadap manusia secara keseluruhan agama apapun yang dianutnya
Ketiga, menampilkan visi Islam yang dinamis, kreatif, dan inovatif.
Keempat, menampilkan Islam yang mampu mengembangkan etos kerja, etos politik, etos ekonomi, etos ilmu pengetahuan dan etos pembangunan.
Kelima, menampilkan revivalitas Islam dalam bentuk intensifikasi keislaman lebih berorientasi ke dalam (in mard ariented) yaitu membangun kesalehan, intrinsik dan esoteris daripada intersifikasi ke luar (out wad oriented) yang lebih bersifat ekstrinsik dan eksoteris, yakni kesalehan formalitas.[20]


BAB V
PENUTUP

v  Kesimpulan
Dari makalah ini dapat disimpulkan bahwa pada intinya pendidikan Islam di era globalisasi adalah pendidikan Islam yang mampu menyesuaikan perkembangan zaman dan perkembangan teknologi. Maka yang harus dilakukan adalah mengembangkan sistem pendidikan yang berwawasan global agar menghasilkan out put (lulusan) dari lembaga pendidikan Islam yang lebih bermutu, supaya mereka percaya diri dalam menghadapi persaingan global

DAFTAR PUSTAKA

Arifi, Ahmad. (ed). 2009. Politik Pendidikan Islam: Menelusuri Ideologi dan Aktualisasi Pendidikan Islam di Tengah Arus Globalisasi. Yogyakarta: Teras.
Azizy, A. Qodri. 2003. Melawan Globalisasi: Interpretasi Agama Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Azra, Azyumardi. 1995. Pendidikan, Islam, Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.
Daulay, A. Haidar Putra. 2009. Pemberdayaan Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
Muliawan, Jasa Ungguh. 2005. Pendidikan Islam Integratif: Usaha Mengintegrasikan Kembali Dikotomi Ilmu dan Pendidikan Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Rifai'i, Moh. dan Rosidi Abdulghani. 1991. Al-Qur'an dan Terjemah. Semarang: CV. Wicaksana.
Tim Penyusun. 2009. Pengantar Studi Islam. Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press.
Wikipedia. 2009. Globalisasi (online) (http://id.wikipedia.org/wiki/globalisasi, diakses tanggal 25 Desember 2009).
Wikipedia. 2009. Pendidikan (online) (http://id.wikipedia.org/wiki/pendidikan, diakses tanggal 25 Desember 2009)
Wordpress. 2009. Definisi Islam (online) (http://islam murni.wordpress.com/2009/ 10/31/definisi Islam/, diakses tanggal 25 Desember 2009)


[1] http://id.wikipedia.org/wiki/pendidikan?
[2] http://islam murni.wordpress.com/2009/10/31/definisi Islam/
[3] Dr. Ahmad Arifi, MA. (ed). 2009. Politik Pendidikan Islam: Menelusuri Ideologi dan Aktualisasi Pendidikan Islam di Tengah Arus Globalisasi. Yogyakarta: Teras. hlm. 1.
[4] Prof. Dr. A. Haidar Putra Daulay, MA. 2009. Pemberdayaan Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta. hlm. 7.
[5] Moh. Rifai'i dan Rosidi Abdulghani. 1991 Al-Qur'an dan Terjemah. Semarang: CV. Wicaksana. hlm. 59.
[6] Dr. Ahmad Arifi, MA. (ed). 2009. Politik Pendidikan Islam: Menelusuri Ideologi dan Aktualisasi Pendidikan Islam di Tengah Arus Globalisasi. Yogyakarta: Teras. hlm. 36.
[7] Moh. Rifai'i dan Rosidi Abdulghani. 1991 Al-Qur'an dan Terjemah. Semarang: CV. Wicaksana. hlm. 529.
[8] Prof. Dr. A. Haidar Putra Daulay, MA. 2009. Pemberdayaan Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta. hlm. 10.
[9] Jasa Ungguh Muliawan. 2005. Pendidikan Islam Integratif: Usaha Mengintegrasikan Kembali Dikotomi Ilmu dan Pendidikan Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. hlm. 154.
[10] Ibid. hlm. 162.
[11] http://id.wikipedia.org/wiki/globalisasi
[12] Tim Penyusun. 2009. Pengantar Studi Islam. Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press. hlm. 233.
[13] Tim Penyusun. hlm. 235.
[14] Dr. A. Qodri Azizy, MA. 2003. Melawan Globalisasi: Interpresi Agama Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. hlm. 22.
[15] Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA. 1995. Pendidikan, Islam, Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru. Jakarta: Logos Wacana Ilmu. hlm. 5.
[16] Prof. Dr. A. Haidar Putra Daulay, MA. 2009. Pemberdayaan Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta. hlm. 95.
[17] Ibid. hlm. 104-105.
[18] Prof. Dr. A. Haidar Putra Daulay, MA. 2009. Pemberdayaan Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta. hlm. 27-20.
[19] Dr. A. Qodri Azizy, MA. 2003. Melawan Globalisasi: Interpresi Agama Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. hlm. 19.
[20] Tim Penyusun. 2009. Pengantar Studi Islam. Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press. hlm. 236-237.