Thursday, August 28, 2014

KONTAK PERTAMA ANTARA ISLAM DAN ILMU PENGETAHUAN, SERTA FILSAFAT YUNANI


BAB I
KONTAK PERTAMA ANTARA ISLAM
DAN ILMU PENGETAHUAN, SERTA FILSAFAT YUNANI


Alexander Yang Agung mengalahkan Darius di tahun 331 S.I.  (Sebelum Islam) Di Arbela (sebelah timur Tigris). Alexander dating dengan tidak menghancurkan peradaban dan kebudayaan Persia, tetapi sebaliknya ia berusaha untuk menyatukan kebudayaan Yunani dan Persia. Ia kawin dengan Statira, anak Darius dan pada waktu itu juga 24 dari jenderal-jenderalnya dan 10.000 prajurit kawin atas anjurannya dengan wanita-wanita Persia. Selain dari mengadakan hubungan-hubungan perkawinan ia dirikan pula kota-kota dan koloni-koloni yang penduduknya diatur begitu rupa sehingga terdiri dari dua golongan Yunani dan Persia.
Setelah Alexander meninggal, kerajaannya yang besar itu terbagi tiga: Macedonia di Eropa, Kerajaan Ptolemeus di Mesir dengan Alexandria sebagai ibu kota, dan Kerajaan Seleucid (Seleucus) di Asia dengan kota-kota penting Antioch di Siria, Seleucia di Mesopotamia dan Bactra di Persi sebelah timur. Ptolemeus dan Seleucus berusaha meneruskan politik Alexander untuk menyatukan kedua peradaban Yunani dan Iran. Sungguhpun usaha itu tak berhasi, kebudayaan dan peradaban Yunani meninggalkan bekas besar di daerah-daerah ini. Bahasa administrasi yang dipakai di sana ialah bahasa Yunani. Di Mesir dan Siria bahasa ini tetap dipakai sesudah masuknya Islam ke dalam kedua daerah itu dan hanya baru ditukar dengan bahasa Arab di abad ke-7 oleh Khalifah Bani Umayyah A. Malik ibnu Marwan (685-705 M), Khlaifah ke-5 dari Bani Umayyah. Alexandria, Antioch, dan Bactra kemudian menjadi pusat ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani.
Di abad ke-3 M pusat-pusat kebudayaan Yunani ini ditambah dengan kota Jundishapur yang letaknya tidak jauh dari Bagdad (didirikan pada tahun 762 M). Harun al-Rasyid menjadi khlaifah di tahun 786 M, dan sebelumnya ia belajar di Persia di bawah asuhan Yahya ibnu Khalid ibnu Barmak dan dengan demikian banyak dipengaruhi oleh kegemaran Keluarga Barmak pada ilmu pengetahuan dan falsafat. Di bawah pemerintahan Harun al-Rasyid, penerjemahan buku-buku pengetahuan Yunani ke dalam bahasa Arab pun dimulai. Pada mulanya yang dipentingkan adalah buku-buku mengenai kedokteran, tetapi kemudian juga mengenai ilmu pengetahuan-ilmu pengetahuan lain dan falsafah. Buku-buku itu diterjemahkan terlebih dahulu ke dalam bahsa Siria, bahasa ilmu pengetahuan di Mesopotamia di waktu itu, kemudian baru ke dalam bahasa Arab. Akhirnya penerjemahan diadakan langsung ke dalam bahasa Arab.
Penerjemah-penerjemah termasyhur dari zaman itu antara lain adalah:
1.       Hunayn ibnu Ishaq (wafat 873 M), seorang Kristen yang pandai bebahasa Arab dan yunani (pernah berkunjung ke Yunani). Ia terjemahkan 20 buku Galen ke dalam bahasa Siria dan 14 buku lain ke dalam bahasa Arab. Menurut keterangan, Hunayn mempunyai pembantu dan murid dalam kegiatan penerjemahan ini.
2.       Anak Hunayn bernama Ishaq (wafat 910 M).
3.       Sabit ibnu Qurra (825-901 M), seorang penyembah bintang.
4.       Qusta ibnu Luqa, seorang Kristen.
5.       Hubays kemenakan Hunayn.
6.       Abu Bisr Matta ibnu Yunus (939 M), juga seorang Kristen.
Dengan kegiatan penerjemahan ini, sebagian besar dari karangan-karangan Aristiteles, sebagian tertentu dari karangan-karangan mengenai neoplatonisme, sebagian besar dari karangan-karangan Galen serta karangan-karangan dalam ilmu kedokteran lainnya, dan juga karangan-karangan mengenai ilmu pengetahuan Yunani lainnya dapatlah dibaca oleh alim ulama Islam. Karangan-karangan tentang falsafat banyak menarik perhatian kaum Muktazilah, sehingga mereka banyak dipengaruhi oleh pemujaan daya akal yang tedapat dalam falsafat Yunani. Abu al-Huzail al-Allaf, Ibrahim al Nazzam, Bisr ibnu al-Mu’tamir dan lain-lain banyak membaca buku-buku falsafat. Dalam pembahasan mereka mengenai teologi Islam, daya akal atau logika yang mereka jumpai dalam falsafat Yunani banyak mereka pakai. Tidak mengherankan kalau teologi kaum Muktazilah mempunyai corak rasional dan liberal. Tidak lama kemudian timbullah di kalangan umat Islam sendiri filosif-filosof dan ahli-ahli ilmu pengetahuan.



BAB II
YA’KUB IBNU ISHAQ AL-KINDI

Ya’kub ibnu Ishaq al-Kindi berasal dari Kindah di Yaman tetapi lahir di Kufah (Iran) di tahun 796 M. Orang tuanya adalah gubernur dari Basrah. Setelah dewasa ia pergi ke Bagdad dan mendapat lindungan dari Khalifah al-Ma’mun (813-833) dan Khalifah al-Mu’tasim (833-842 M). Al-Kindi menganut aliran Muktazilah dan kemudian belajar falsafat. Zaman itu adalah zaman penerjemahan buku-buku Yunani dan al-Kindi kelihatannya turut juga aktif dalam gerakan penerjemahan ini. Kemudian ia sendiri mengarang buku-buku yang ditulisnya (besar dan kecil) berjumlah 241 dalam falsafat, logika, ilmu hitung, astronomi, kedokteran, ilmu jiwa, politik, optika, musik matematika dan sebagainya.
1.       Falsafat Ketuhanan
Sebagaimana halnya dengan filosof-filosof Yuani dan filosof-filosof Islam lainnya, al-Kindi, selain dari filosof, adalah juga ahli ilmu pengetahuan. Pengetahuan ia bagi ke dalam dua bagian:
  1. Pengetahuan Ilahi ( devine sciene), sebagaimana yang tercantum dalam Quran: yaitu pengetahuan langsung yang diperoleh Nabi dari Tuhan. Dasar pengetahuan ialah keyakinan.
  2. Pengetahuan manusiawi (human sciene) atau falsafat. Dasarnya ialah pemikiran (ratio-reason).
Argumen-argumen yang dibawa Quran lebih meyakinkan daripada argument-argumen yang ditimbulkan falsafat. Tetapi falsafat dan Quran tidak bertentangan; kebenaran yang diberitakan wahyu tidak bertentangan dengan kebenaran yang dibawa falsafat. Falsafat baginya ialah pengetahuan tentang yang benar (kmowlodge of truth, ). Di sinilah terlihat persamaan falsafat dan agama. Tujuan agama ialah menerngkan apa yang benar dan apa yang baik; falsafat itu pulalah tujuannya. Agama, di samping wahyu, mempergunakan akal, dan falsafat juga mempergunakan akal. Yang Bebar Pertama ( , The Firs Truth) bagi al-Kindi ialah Tuhan.
Kebenaran ialah bersesuaian apa yang ada dalam akal dengan apa yang ada di luar akal. Dalam alam terdapat benda-benda yang dapat ditangkap dengan pancaindera. Tiap-tiap benda mempunyai dua hakikat:
§ hakikatnya sebagai juz’i ( حقيقة جزئية ) dan ini disebut aniyah ( الأنية),
§ dan hakikatnya sebagai kulli (حقيقة كلية)dan ini disebut sebagai mahiyah (الماثية) yaitu hakikat yang bersifat universal dalam bentuk genus dan species.
Tuhan dalam falsafat al-Kindi tidak mempunyai hakikat dalam ati aniyah dan mahiyah. Tidak aniyah karena Tuhan tidak masuk dalam benda-benda yang ada dalam alam, bahkan Ia adalah Pencipta alam. Ia tidak tersususn dari materi dan bentuk (الهيولى والصورة)Tuhan juga tidak mempunyai hakikat makiyah, karena Tuhan tidak merupakan genus atau spicies. Tuhan hanya satu, dan tidak ada yang serupa dengan Tuhan. Tuhan adalah unik. Ia adalah الحق الأول (Yang Benar Pertama) dan الحق الواحد (Yang Benar Tunggal). Ia semata-mata satu. Hanya Ialah yang satu, selain dari Tuhan semuanya mengandung arti banyak.
2.       Falsafat Jiwa
Jiwa dipandang intisari dari manusia dan filosof-filosof Islam banyak memperbincangkan hal ini, apalagi karena ayat-ayat Quran atau hadis Nabi tidak menjelaskan hakikat roh itu.
Menurut al-Kindi roh tidak tersusun (بسطة, simple, sederhana) tetapi mempunyai arti penting, sempurna dan mulai. Argumen yang dikemukakan al-Kindi tentang kelainan roh dari badan ialah keadaan badan mempunyai hawa nafsu. (carnal desire) dan sifat pemarah (الغضب, passions).
Dengan perataraan rohlah manusia memperoleh pengetahuan yang sebenarnya. Ada dua macam pengetahuan: pengetahuan pancaindera dan pengetahuan akal. Pengetahuan panca indera hanya mengenai yang lahir saja. Pengetahuan akal merupakan hakikat-hakikat dan hanya dapat diperoleh manusia tetapi dengan syarat ia harus melepaskan dirinya dari sifat binatang yang ada dalam tubuhnya. Karena roh adalah cahaya dari Tuhan, roh dapat menangkap ilmu-ilmu yang ada pada Tuhan. Tetapi kalau roh kotor, maka sebagaimana halnya dengan cermin yang kotor, roh tak dapat menerima pengetahuan-pengetahuan yang dipancarkan oleh cahaya yang berasal dari Tuhan itu.
Hanya roh yang sudah suci di dunia ini yang dapat pergi ke Alam Kebenaran itu. Roh yang masih kotor dan belum suci, pergi dahulu ke bulan. Setelah berhasil membersihkan diri di sana, baru ia pindah ke Merkuri, dan demikianlah naik setingkat demi setingkat hingga ia akhirnya setelah benar-benar bersih, sampai ke Alam Akal, dalam lingkungan cahaya Tuhan dan melihat Tuhan.
Jiwa mempunyai tiga daya:
§  daya bernafsu (…., appetitive);
§  daya pemarah (…., irascrible);
§  dan daya berpikir (…., cognitive faculty).
Daya berpikir itu disebut akal. Menurut al-Kindi ada tiga macam akal:
§  akal yang bersifat potensial (……..);
§  akal yang telah keluar dari sifat potensial menjadi aktual (….....);
§  dan akal yang telah mencapai tingkat kedua dari aktualitas, yang dalam bahasa Arab disebut:

Dalam keadaan aktual nyata, ketika ia aktual, akal yang kami sebut “Yang Kedua”.
Akal yang bersifat potensial tak bisa mempunyai sifat aktual jika tidak ada kekuatan yang menggerakkannya dari luar. Dan oleh karena itu bagi al-Kindi ada lagi satu macam akal yang mempunyai wujud dari luar roh manusia, dan bernama: ……. (akal yang selamanya dalam aktualitas). Akal ini, karena selamanya dalam aktualitas, ialah yang membuat akal yang bersifat potensial dalam roh manusia menjadi aktual. Sifat-sifat akal ini:
  1. Ia merupakan akal pertama;
  2. Ia selamanya dalam aktualitas;
  3. Ia merupakan species dan genus;
  4. Ia membuat akal potensial menjadi aktual berpikir;
  5. Ia tidak sama dengan akal potensial tetapi lain daripadanya.


BAB III
ABU BAKAR MUHAMMAD IBNU ZAKARIA AL-RAZI

Abu Bakar Muhammad ibnu Zakaria al-Razi lahir di Ray, satu kota di dekat Teheran, di tahun 863 M dan wafat pada tahun 925 M. Karangannya yang terkenal ialah “Tentang Cacar dan Campak” yang diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di Eropa dan pada tahun 1866 masih dicetak untuk kali keempat puluhnya.
1.      Falsafat Lima Kekal
Falsafatnya terkenal dengan doktrin Lima Yang Kekal, Jiwa Universal, Materi Pertama, Ruang Absolut, dan Zaman Absolut. Bagi benda (being) kelima hal ini ada:
a.       Materi: merupakan apa yang ditangkap dengan pancaindera tentang benda itu.
b.       Ruang: karena materi mengambil tempat.
c.       Zaman: karena materi berubah-ubah keadaannya.
d.      Di antara benda-benda ada yang hidup dan oleh karena itu perlu ada roh. Dan di antara yang hidup ada pula yang berakal yang dapat mewujudkan ciptaan-ciptaan yang teratur.
e.       Semua ini perlu pada Pencipta Yang Mahabijaksana lagi Mahatahu.
Dua dari yang lima kekal itu hidup dan aktif, Tuhan dan roh. Satu daripadanya tidak hidup dan pasif, yaitu materi. Dua lainnya tidak hidup, tidak aktif dan tidak pula pasif, ruang dan masa.
Materi adalah kekal, karena creation ex nihilo (penciptaan dari tiada) merupakan suatu hal yang tak mungkin. Kalau materi kekal; ruang mesti kekal; karena materi tak boleh tidak mesti bertempat dalam ruang. Karena materi mengalami perubahan, dan perubahan mendadak zaman, maka zaman mesti kekal pula kalau materi kekal.
2.      Roh dan Materi
Sungguhpun materi pertama kekal, alam tidak kekal. Alam diciptakan Tuhan, bukan dalam arti creation ex nihilo, tetapi dalam arti disusun oleh bahan yang telah ada. Tuhan mewujudkan manusia dan di dalamnya mengambil tempat. Terikat pada materi, roh lupa pada asalnya dan lupa bahwa kesenangannya yang sebenarnya bukan terletak dalam persatuan dengan materi tetapi dalam melepaskan diri dari materi. Oleh karena itu Tuhan mewujudkan akal, yang berasal dari zat Tuhan sendiri. Tugas akal ialah untuk menyadarkan manusia yang telah terperdaya oleh kesenangan materi, bahwa alam materi ini bukanlah alam yang sebenarnya. Alam yang sebenarnya dan kesenangan yang sebenarnya berada di luar alam materi dan alam itu dapat dicapai hanya dengan filsafat.
3.      Rasio dan Agama
Al-Razi adalah seorang rasionalis yang hanya percaya pada kekuatan akal dan tidak percaya pada wahyu dan perlunya Nabi-Nabi. Ia berkeyakinan bahwa akal manusia kuat untuk mengetahui yang baik serta apa yang buruk, untuk tahu pada Tuhan dan untuk mengatur hidup manusia di dunia ini. Nabi-nabi menurut pendapatnya, membawa kehancuran bagi manusia, dengan ajaran-ajaran mereka yang saling bertentangan. Quran baik dalam bahasa dan gaya maupun dalam isi tidak merupakan mukjizat. Al-Razi lebih mementingkan buku-buku falsafat dan ilmu pengetahuan daripada buku-buku agama. Tetapi sungguhpun ia menentang agama pada umumnya, ia bukanlah seorang ateis, malahan seorang monoteis yang percaya pada adanya Tuhan, sebagai Penyusun dan Pengatur alam ini.
Dalam falsafatnya mengenai hubungan manusia dengan Tuhan ia dekat kepada falsafat Pythagoras, yang memandang kesenangan manusia sebenarnya ialah kembali kepada Tuhan dengan meninggalkan alam materi ini. Untuk kembali ke Tuhan roh harus terlebih dahulu disucikan dan yang dapat menyucikan roh ialah ilmu pengetahuan dan berpantang mengerjakan beberapa hal.
Al-Razi adalah filosof yang berani mengeluarkan pendapat-pendapatnya sungguhpun itu bertentangan dengan paham yang dianut umat Islam, yaitu:
a.       Tidak percaya pada wahyu.
b.      Qur'an tidak mukjizat.
c.       Tidak percaya pada Nabi-Nabi.
d.      Adanya hal-hal yang kekal dalam arti tidak bermula dan tidak berakhir seperti Tuhan.


BAB IV
ABU NASR MUHAMMAD AL-FARABI

Abu Nasr Muhammad al-Farabi lahir di Wasij, suatu desa di Farab (Transoxania) di tahun 870 M. Menurut keterangan ia berasal dari Turki dan orang tuanya adalah seorang jenderal. Ia sendiri pernah menjadi hakim. Dari Farab ia kemudian pindah ke Bagdad, pusat ilmu pengetahuan di waktu itu. Di sana ia belajar pada Abu Bisr Matta ibnu Yunus (penerjemah), dan tinggal di Bagdad selama 20 tahun. Kemudian ia pindah ke Aleppo dan tinggal di Istana Saifal-Daulah memusatkan perhatian pada ilmu pengetahuan dan falsafat. Istana Saifal-Daulah adalah tempat pertemuan ilmu pengetahuan dan falsafat di waktu itu. Dalam umur 80 tahun al-Farabi wafat di Aleppo pada tahun 950 M.
Ia berkeyakinan bahwa falsafat tak boleh dibocorkan dan sampai ke tangan orang awam. Oleh karena itu filosof-filosof harus menuliskan pendapat-pendapat atau falsafat mereka alam gaya bahasa yang gelap agar jangan dapat diketahui oleh sembarangan orang, dan dengan demikian iman serta keyakinannya tidak menjadi kacau. Juga ia berkeyakinan bahwa agama dan falsafat tidak bertentangan, malahan sama-sama membawa kepada kebenaran.
1.      Falsafat Emanasi/Pancaran
Dengan falsafat ini al-Farabi mencoba menjelaskan bagaimana yang banyak bisa timbul dari Yang Satu. Tuhan bersifat Maha Satu. Menurut al-Farabi alam terjadi dengan cara emanasi.
Tuhan sebagai akal, berpikir tentang diri-Nya, dan dari pemikiran itu timbul suatu maujud lain. Tuhan merupakan Wujud Pertama (…..) dan dengan pemikiran itu timbul Wujud Kedua (……) yang juga mempunyai substansi. Ia disebut Akal Pertama, First Intellegence (…….), yang bersifat materi. Wujud Kedua ini berpikir tentang Wujud Pertama dan dari pemikiran ini timbullah Wujud Ketiga. (…….) disebut Akal Kedua, Second Intellegence (….).
Wujud Kedua atau Akal Pertama itu juga berpikir tentang dirinya dan dari situ timbullah Langit Pertama. (…….), First Heaven.
Wujud Ketiga/Akal Kedua
§ Tuhan      = Wujud Keempat/Akal Ketiga.
§ Dirinya    = ……… (bintang-bintang).
Wujud Keempat/Akal Ketiga
§ Tuhan      = Wujud Kelima/Akal Keempat.
§ Dirinya    = ……… (Saturnus).
Wujud Kelima/Akal Keempat
§ Tuhan      = Wujud Keenam/Akal Kelima.
§ Dirinya    = ……… (Jupiter).
Wujud Keenam/Akal Kelima
§ Tuhan      = Wujud Ketujuh/Akal Keenam.
§ Dirinya    = ……… (Mars).
Wujud Ketujuh/Akal Keenam
§ Tuhan      = Wujud Kedelapan/Akal Ketujuh.
§ Dirinya    = ……… (Matahari).
Wujud Kedelapan/Akal Ketujuh
§ Tuhan      = Wujud Kesembilan/Akal Kedelapan.
§ Dirinya    = ……… (Venus).
Wujud Kesembilan/Akal Kedelapan
§ Tuhan      = Wujud Kesepuluh/Akal Kesembilan.
§ Dirinya    = ……… (Mercury).
Wujud Kesepuluh/Akal Kesembilan
§ Tuhan      = Wujud Kesebelas/Akal Kesepuluh.
§ Dirinya    = ……… (Bulan).
Pada pemikiran Wjud Kesebelas/Akal Kesepuluh, berhentilah terjadinya atau timbulnya akal-akal. Tetapi dari Akal Kesepuluh bumi serta roh-roh dan materi pertama yang menjadi dasar dari keempat unsure: api, udara, air dan tanah.
Jadinya ada sepuluh akal dan Sembilan langit (dari teori Yunani tentang Sembilan langit/sphere) yang kekal berputar sekitar bumi. Akal Kesepuluh mengatur dunia yang ditempati manusia ini. Tentang qidam (tidak bermulanya) atau barunya alam, al-Farabi mencela orang yang mengatakan bahwa ala mini menurut Aristoteles adalah kekal. Menurut al-Farabi alam terjadi dengan tak mempunyai permulaan dalam waktu, yaitu tidak terjadi secara berangsur-angsur, tetapi sekaligus dengan tak berwaktu.
Jiwa manusia sebagaimana halnya dengan materi asal memancar dari Akal Kesepuluh. Sebagaimana Aristoteles, ia juga berpendapat bahwa jiwa mempunyai daya-daya:
a.       Gerak (……, motion):
1)      makan (……, nutrition),
2)      memelihara (……, preservation),
3)      berkembang (……, reproduction).
b.      Mengetahui (……, cognition):
1)      merasa (……, sensation),
2)      imajinasi (……, emagination).
c.       Berpikir (……, ellection):
1)      akal praktis (……, practical intellect)
2)      akal teoritis (……, teoritical intellect).
Daya berpikir terdiri dari tiga tingkat:
1)      Akal potensial (……, material intellect), baru mempunyai potensi berpikir dalam arti: melepas arti-arti atau bentuk-bentuk dari materinya.
2)      Akal aktual (……, actual intellect), telah dapat melepaskan arti-arti dari materinya, dan arti-arti itu telah mempunyai wujud dalam akal dengan sebenarnya, bukan lagi dalam bentuk potensi, tetapi dalam bentuk aktual.
3)      Akal Mustafad (……, acquired intellect), telah dapat menangkap semata-mata (……, pure forms). Kalau akal aktual hanya dapat menangkap arti-arti terlepas dari materi (……, abstracted intelligibles), akal mustafad sanggup menangkap bentuk semata-mata (pure forms). Bentuk semata-mata ini berlainan dengan ….. (abstracted intelligibles) tidak pernah berada dalam materi. Bentuk semata-mata berada tanpa materi seperti akal yang kesepuluh dan Tuhan.
2.      Falsafat Kenabian
Akal kesepuluh itu dapat disamakan dengan malaikat dalam paham Islam. Filosof-filosof dapat mengetahui hakikat-hakikat karena dengan berkomunikasi dengan akal kesepuluh. Nabi atau Rasul demikian pula dapat menerima wahyu, karena mempunyai kesanggupan untuk mengatakan komunikasi dengan akal kesepuluh. Tetapi kedudukan Rasul atau Nabi lebih tinggi dari filosof. Rasul atau Nabi adalah pilihan dan komunikasi dengan Akal Kesepuluh terjadi bukan atas usaha sendiri, tetapi atas pemberian dari Tuhan. Filosof dapat mengatakan komunikasi itu atas usaha sendiri, yaitu dengan latihan dan kontemplasi. Selanjutnya filosof dapat mengadakan komunikasi dengan Akal Kesepuluh melalui akal, yaitu akal mustafad (acquired intellect); sedang Nabi atau Rasul tidak perlu sampai mencapai atau memperoleh tingkat akal mustafad itu, karena Nabi atau Rasul mengadakan kontak dengan Akal Kesepuluh tanpa latihan yang harus dijalani oleh para filosof. Dengan daya imanijasi yang kuat Rasul atau Nabi dapat melepaskan diri dari pengaruh-pengaruh pancaindera dan dari tuntutan-tuntutan badan, sehingga ia dapat memusatkan perhatian dan mengadakan hubungan dengan Akal Kesepuluh.
Falsafat ini dikemukakan al-Farabi untuk menentang aliran yang tak percaya kepada Nabi atau Rasul (wahyu) sebagaimana yang dibawa oleh al-Razi dan lain-lain di zaman itu. Falsafat kenabian rapat hubungannya dengan teori politik al-Farabi. Uraian mengenai hal ini terdapat dalam buku yang berjudul Ara Ahl al-Madinah al-Fadilah (…….., Model City). Dalam kota (masyarakat) masing-masing anggota harus diberikan kerja yang sepadan dengan kesanggupan masing-masing. Pekerjaan yang terpenting dalam masyarakat ialah pekerjaan kepala masyarakat. Kepalah sumber dari segala peraturan dan keharmonisan dalam masyarakat. Ia mesti bertubuh sehat dan kuat, pintar, cinta kepada ilmu pengetahuan dan pada keadilan. Tugas kepala Negara, bukan hanya mengatur Negara, tetapi mendidik manusia mempunyai akhlak yang baik. Kalau sifat-sifat yang dekat menyerupai sifat-sifat Nabi atau Rasul tak terdapat dalam satu orang, tetapi dalam diri beberapa orang, maka Negara diserahkan kepada mereka dan di antara mereka mesti ada yang mempunyai sifat filosof, adil, dan sebagainya.
Jiwa yang akan kekal ialah jiwa fadilah (mungkin yang akan hidup di al-Madinah al-Fadilah) yaitu jiwa-jiwa yang berbuat baik, jiwa-jiwa yang dapat melepaskan diri dari ikatan jasmani, dan oleh karena itu tidak hancur dengan hancurnya badan. Adapun jiwa Jahilah, jiwa yang tak mencapai kesempurnaan (mungkin yang hidup dalam al-Madinah al-Jahilah), belum dapat melepaskan diri dari ikatan materi, akan hancur dengan hancurnya badan. Dan jiwa yang tahu pada kesenangan tetapi menolaknya (mungkin yang hidup dalam al-Madinah al-Fasiqah), tidak akan hancur dan akan kekal, tetapi kekal dalam kesengsaraan (…….). Surga dan Neraka bagi al-Farabi adalah soal spiritual.


BAB V
ABU ALI  HUSEIN IBNU ABDILLA IBNU SINA

Abu Ali  Husein ibnu Abdillah ibnu Sina lahir di Afsyana, suatu tempat yang terletak di dekat Bukhara di tahun 980 M. Dari semenjak kecil ibnu Sina telah banyak mempelajari ilmu-ilmu pengetahuan yang ada di zamannya, seperti fisika, matematika, kedokteran, hukum dan lain-lain. Setelah orang tuanya meninggal, ia pindah ke Juzjan, suatu kota di dekat laut Kaspia, dan disanalah ia mulai menulis eksiklopedianya tentang ilmu kedokteran yang kemudian terkenal dengan nama al-Qanun fi al-Tibb (………., The Canon). Kemudian ia pindah ke Ray, suatu kota di sebelah selatan Teheran, dan bekerja untuk Ratu Sayyidah dan anaknya Majd al-Dawlah. Kemudian Sultan Syam al-Dawlah yang berkuasa di Hamdan (di bagian barat dari Iran) mengangkat Ibnu Sina menjadi menterinya. Kemudian sekali ia pindah ke Isfahan dan meninggal di tahun 1037 M.
1.      Falsafat Jiwa
Pemikiran terpenting yang dihasilkan ibnu Sina ialah falsafatnya tentang jiwa. Sebagaimana al-Farabi juga menganut paham pancaran. Akal Pertama adalah adalah malaikat tertinggi dan Akal Kesepuluh adalah Jibril.
Berlainan dengan al-Farabi, ibnu Sina berpendapat bahwa akal pertama mempunyai dua sifat:
a.       sifat wajib wujudnya, sebagai pancaran dari Allah (necessary by virtue of the Necessary Being, ………).
b.      dan sifat mungkin wujudnya jika ditinjau dari hakikat dirinya (possible in essence, …….).
Dengan demikian ia mempunyai tiga obyek pemikiran: Tuhan, dirinya sebagai wajib wujudnya dan dirinya sebagai mungkin wujudnya. Dari pemikiran tentang Tuhan timbul akal-akal, dari pemikiran tentang dirinya sebagai wujudnya timbul jiwa-jiwa dan dari pemikiran tentang dirinya sebagai mungkin wujudnya timbul langit-langit.
Ibnu Sina membagi jiwa dalam tiga bagian:
a.        Jiwa tumbuh-tumbuhan (……….) dengan daya-daya:
1)      makan (……, nutrition),
2)      tumbuh (……, growth),
3)      berkembang biak (……, reproduction).
b.       Jiwa binatang (………) dengan daya-daya:
1)      gerak (………, locomotion);
2)      menangkap (…………, perception), dengan dua bagian:
(a)    menagkap dari luar (…………..) dengan pancaindera
(b)    menangkap dari dalam (…………..) dengan pancaindera dalam:
(1)    indera bersama (…….., common sense) yang menerima segala apa yang ditangkap oleh pancaindera.
(2)    Representasi (………, representation) yang menyimpan segala apa yang diterima oleh indera bersama.
(3)    Imajinasi (……….., imagination) yang menyusun apa yang disimpan dalam representasi.
(4)    Estimasi (……….., estimation) yang dapat menangkap hal-hal abstrak yang terlepas dari materinya umpamanya keharusan lari bagi kambing dari serigala.
(5)    Rekoleksi (………., recollection) yang menyimpan hal-hal abstrak yang diterima oleh estimasi.
c.        Jiwa manusia (………) dengan dua daya:
1)      Praktis (………., practical) yang hubungannya dengan badan.
2)      Teoritis (…….. atau …….., theoritical) yang hubungannya dengan hal-hal abstrak. Daya ini mempunyai tingkatan:
(a)    Akal Materiil (…………, material intellect) yang semata-mata mempunyai potensi untuk berpikir dan belum dilatih walaupun sedikit.
(b)    Intellectus in Habitu (…………) yang telah mulai dilatih untuk berpikir tentang hal-hal abstrak.
(c)    Akal Aktual (……….) yang telah dapat berpikir tentang hal-hal abstrak.
(d)   Akal Mustafad (…………, acquired intellect) yaitu akal yang telah sanggup berpikir tentang hal-hal abstrak dengan tak perlu pada daya upaya.
Dalam hal ini daya praktis (……….) mempunyai kedudukan penting. Daya inilah yang berusaha mengontrol badan manusia, sehingga hawa nafsu yang terdapat dalam badan tidak menjadi hlangan baagi daya teoritis (………) untuk membaaawa manusia kepaadaa tingkatan yang tinggi dalam usaha mencapai kesempurnaan. Dan jika jiwa manusia ini telah mencapai kesempurnaannya, dengan memperoleh konsep-konsep dasar yang perlu baginya, ia tak berhajat lagi pada pertolongan badan, malahan badan dengan jiwa-jiwa binatang yang terdapat di dalamnya akan menjadi penghalang bagi jiwa manusia untuk mencapai kesempurnaan. Karena jiwa manusia merupakan satu unit tersendiri dan mempunyai wujud terlepas dari badan. Tetapi kedua jiwa lainnya, jiwa tumbuh-tumbuhan dan jiwa binatang yang ada dalam diri manusia, karena hanya mempunyai fungsi-fungsi yang bersifat fisik dan jasmani akan mati dengan matinya badan dan tak akan dihidupkan kembali di Hari Kiamat.
2.      Falsafat Wahyu dan Nabi
Sebagaimana dilihat di atas, akal mempunyai empat tingkat dan yang terendah di antaranya ialah …………(akal materiil). Adakalanya Tuhan menganugerahkan kepada manusia akal materiil yang besar lagi kuat, yang oleh Ibnu Sina diberi nama al-hads (……..) yaitu intuisi. Daya yang ada pada akal materiil seperti ini begitu besarnya, sehingga tanpa melalui latihan, dengan mudah dapat menerima cahaya atau wahyu dari Tuhan. Akal yang seperti ini mempunyai daya suci (………). Inilah bentuk akal tertinggi yang dapat diperoleh manusia, dan terdapat hanya pada Nabi-Nabi.
3.      Falsafat Wujud
Bagi ibnu Sina sifat wujudlah yang terpenting dan yang mempunyai kedudukan di atas segala sifat lain, walaupun esensi sendiri. Tanpa wujud, esensi tidak besar artinya. Oleh sebab itu wujud lebih penting dari esensi. Tidak mengherankan kalau dikatakan bahwa Ibnu Sina telah terlebih dahulu menimbulkan falsafat wujudiyah atau eksistensialisme dari filosof-filosof lain.
Kalau dikombinasikan, esensi dan wujud dapat mempunyai kombinasi berikut:
a.       Esensi yang tak dapat mempunyai wujud, sebagai umpama adanya sekarang ini, juga kosmos lain di samping kosmos kosmos yang ada..
b.      Esensi yang boleh mempunyai wujud dan boleh pula tidak mempunyai wujud. Contohnya ialah alam ini yang pada mulanya tidak ada, kemudian ada dan akhirnya akan hancur menjadi tidak ada.
c.       Esensi yang tak boleh tidak mesti mempunyai wujud. Di sini esensi tidak bisa dipisahkan dari wujud; esensi dan wujud adalah sama dan satu.


BAB VI
ABU HAMID MUHAMMAD AL-GHAZALI

Abu Hamid Muhammad al-Ghazali lahir pada tahun 1059 M. di Gazaleh suatu kota kecil yang terletak di dekat Tus di Khurasan. Di masa mudanya ia belajar di Nisyapur, juga di Khurasan, yang pada waktu itu merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan yang penting di dunia Islam.
Al-Ghazali dalam sejarah falsafat Islam dikenal sebagai orang yang pada mulanya syak terhadap segala-galanya. Perasaan syak ini kelihatannya timbul dalam dirinya dari pelajaran ilm al-kalam atau teologi yang diperolehnya dari al-Juwaini. Sebagaimana diketahui dalam ilm al-kalam terdapat beberapa aliran yang saling bertentangan. Timbullah pertanyaan dalam diri al-Ghazali: aliran manakah yang betul-betul benar di antara semua aliran itu?
Sebagaimana dijelaskan al-Ghazali dalam bukunya al-Munqiz min al-Dalal, “Penyelamat dari Kesesatan” ia ingin mencari kebenaran yang sebenarnya; yaitu kebenaran yang diyakininya betul-betul merupakan kebenaran.
1.       Kritik Terhadap Filosof-Filosof
Ia mempelajari falsafat, kelihatannya untuk menyelidiki apa pendapat-pendapat yang dikemukakan filosof-filosof itulah yang merupakan kebenaran. Baginya ternyata bahwa argumen-argumen yang mereka kemukakan tidak kuat, dan menurut keyakinannya ada yang bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam. akhirnya ia mengambil sikap menentang terhadap falsafat. Di waktu inilah ia mengarang buku yang bernama Maqasid al-Falasifa, …….., (Pemikiran Kaum Filosof).
Sebagai halnya dalam ilm al-kalam, dalam falsafat al-Ghazali juga mempunyai argument-argumen yang tidak kuat. Akhirnya dalam tasawuflah ia memperoleh apa yang dicarinya.
Tasawuflah yang dapat menghilangkan rasa syak yang lama mengganggu dirinya. Dalam tasawuflah ia memperoleh keyakinan yang dicarinya. Pengetahuan mistiklah, cahaya yang diturunkan Tuhan ke dalam dirinya, itulah yang membuat al-Ghazali memperoleh keyakinan kembali.
Sebagaimana dijelaskan di atas, al-Ghazali tidak percaya pada falsafat, bahkan memandang filosof-filosof sebagai ahl al-bida' (……….), yaitu tersesat dalam beberapa pendapat mereka. Di dalam tahafut al-Falasifah, al-Ghazali menyalahkan filosof-filosof dalam pendapat-pendapat berikut:
a.       Tuhan tidak mempunyai sifat.
b.       Tuhan mempunyai substansi basit (…….., sederhana, simple) dan tidak mempunyai mahiyah (……, hakikat, quiddity).
c.       Tuhan tidak mengetahui juz'iyat (……, perincian, particulars).
d.      Tuhan tidak dapat diberi sifat al-jins (……, jenis, genus) dan l-fasl (……, differentia).
e.       Planet-planet adalah bintang yang bergerak dengan kemauan.
f.        Jiwa planet-planet mengetahui semua juz'iyat.
g.       Hukum alam tak dapat berubah.
h.       Pembangkitan jasmani tidak ada.
i.         Alam ini tidak bermula.
j.         Ala mini akan kekal.
Tiga pendapat menurut al-Ghazali membawa kepada kekufuran yaitu:
a.       Alam kekal dalam arti tak bermula.
b.       Tuhan tak mengetahui perincian dari apa-apa yang terjadi di alam.
c.       Pembangkitan jasmani tidak ada.
2.       Tiga Golongan Manusia
Dalam pada itu al-Ghazali umat manusia ke tiga golongan:
  1. Kaum awam, yang cara berpikirnya sederhana sekali.
  2. Kaum pilihan (……, elect) yang akalnya tajam dan berpikir secara mendalam.
  3. Kaum penengkar (………).
Kaum awam dengan daya akalnya yang sederhana sekali tidak dapat menangkap hakikat-hakikat. Mereka mempunyai sifat lekas percaya dan menurut. Golongan ini harus dihadapi dengan sikap memberi nasehat dan petunjuk (……..). Kaum pilihan yang daya akalnya kuat dan mendalam harus dihadapi dengan sikap menjelaskan hikmat-hikmat, sedang kaum penengkar dengan sikap mematahkan argument-argumen (……..).
Al-Ghazali dalam hal ini membagi manusia ke dalam dua golongan besar, awam dan khawas, yang daya tangkapnya tidak sama dan oleh karena itu apa yang dapat diberikan kepada golongan khawas tidak selamanya dapat diberikan kepada kaum awam. Dan sebaliknya pengertian kaum awam dan kaum khawas tentang hal yang sama tidak selamanya sama. Kaum awam membaca apa yang tersurat, dan kaum khawas, sebaiknya, membaca apa yang tersirat.



BAB VII
ABU AL-WALID MUHAMMAD IBN MUHAMMAD IBNU RUSYD

Nama lengkap ibnu Rusyd ialah Abu al-Walid Muhammad ibnu Muhammad ibnu Rusyd. Ia lahir di Cordoba pada tahun 1126 M. Ia sendiri pernah menjadi hakim di Seville dan beberapa kota lain di Spanyol. Selanjutnya ia pernah pula menjadi dokter istana di Cordoba, dan sebagai filosof dan ahli dalam hukum ia mempunyai pengaruh besar di kalangan istana, terutama di zaman sultan Abu Yusuf Ya’kub al-Mansur (1184-1199 M). Sebagai filosof, pengaruhnya di kalangan istana tidak disenangi oleh kaum ulama dan kaum fuqaha. Keadan berbalik dan Ibnu Rusyd dengan mudah dapat disingkirkan oleh kaum ulama dan kaum fuqaha. Ia dituduh membawa falsafat yang menyeleweng dari ajran-ajaran Islam dan dengan demikian ia ditangkap dan diasingkan ke suatu tempat bernama Lucena di sebelah Cordoba. Ibnu Rusyd sendiri kemudian dipindahkan ke Maroko dan meninggal di sana dalam usia 72 tahun di tahun 1198 M.
Ibnu Rusyd meninggalkan kenang-kenangan dalam ilmu hukum Bidayah al-Mujtahid (………) dan dalam ilmu kedokteran Kitab al-Kulliyat (…………) selain dari karangan-karangan dalam lapangan falsafat. Karangan-karangan Ibnu Rusyd tentang falsafat Aristoteles banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, sehingga ia terkenal dengan nama Commentator di dunia Latin di masa itu, di samping kemasyhuran namanya dalam lapangan ilmu kedokteran. Ibnu Rusyd selain dari filosof adalah pula ahli fikih.
1.      Falsafat Tidak Bertentangan Dengan Islam
Menurut Ibnu Rusyd falsafat tidaklah bertentangan dengan Islam, bahkan orang Islam diwajibkan atau sekurang-kurangnya dianjurkan mempelajarinya (wajib atau sunnat). Tugas falsafat ialah tidak lain daripada berpikir tentang wujud untuk mengetahui Pencipta semua yang ada ini dan Quran.
Ayat-ayat Quran mempunyai arti-arti lahir dan batin. Arti batin ini hanya dapat diketahui oleh filosof-filosof dan tak boleh disampaikan kepadaa orang awam. Oleh karena itu ada ulama-ulama yang tidak mau mengeluarkan pendapat mereka kepada umum tentang masalah-masalah tertentu.
Lebih lanjut Ibnu Rusyd mengatakan bahwa tiap Muslim mesti percaya pada tiga dasar keagamaan yaitu: adanya Tuhan, adanya Rasul dan adanya pembangkitan. Hanya orang yang tidak percaya pada salah satu dari ketiga dasaar inilah yang boleh dicap orang kafir.
Dalam mengkritik al-Ghazali ibnu Rusyd menjelaskan bahwa dalam pandangan Islam segala-galanya dalam alam ini berlaku menurut hukum alam, yaitu menurut sebab musabab atau causality. Al-Ghazali sendiri tidak percaya adanya hubungan causality atau antara sebab dan musabab.
2.      Pembelaan Terhadap Filosof-Filosof
Kaum teolog berpendapat bahwa “alam dijadikan Tuhan” dalam arti “dijadikan dari tiada” (creation ex nihilo). Pendapat kaum teolog ini, menurut Ibnu Rusyd tidak mempunyai dasar syari'at yang kuat. Tidak ada ayat mengatakan bahwa Tuhan pada mulanya berwujud sendiri, yaitu tidak ada wujud selain dari diri-Nya, dan kemudian barulah dijadikan alam. Ini kata Ibnu Rusyd hanyalah merupakan pendapat dan interpretasi kaum teolog.
Bahkan ayat-ayat Quran menyatakan demikian. Ibnu Rusyd selanjutnya mengatakan, bahwa alam dijadikan bukanlah dari tiada, tetapi dari sesuatu yang telah ada. Dengan kata lain alam adalah kekal. Dengan demikian pendapat para filosof tentang kekelan alam tidaklah bertentangan dengan ayat-ayat Quran; apalagi tidak ada ayat yang dengan jelas dan tegas mengatakan bahwa alam diadakan dari tiada.
Selanjutnya Ibnu Rusyd melihat adanya perbedaan antara kaum teolog dan kaum filosof dalam mengartikan kata al-ihdas (………, mewujudkan). Bagi teolog al-ihdas mengandung arti "mewujudkan dan tiada", sedang bagi kaum filosof kata itu mengandung arti "mewujudkan yang tak bermula dan tak berakhir".
Ibnu Rusyd berpendapat bahwa bagi orang awam soal pembangkitan itu perlu digambarkan dalam bentuk jasmani, dan tidak hanya dalam bentuk rohani, karena pembangkitan jasmani lebih mendorong bagi kaum awam untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan baik dan untuk menjauhi perbuatan-perbuatan jahat.



BAB VIII
ASAL-USUL TASAWUF

1.      Hakikat Tasawuf
Mistisisme dalam Islam diberi nama tasawuf dan oleh kaum orientalis Barat disebut sufisme. Kata sufisme dalam istilah orientalis Barat khusus dipakai untuk mistisisme Islam. Sufisme tidak dipakai untuk mistisisme yang terdapat dalam agama-agama lain.
Intisari dari mistisisme, termasuk di dalamnya sufisme, ialah kesadaran akan adanya komunikasi dan dialog antara roh manusia dengan Tuhan dengan mengasingkan diri dan berkontemplasi. Kesadaran berada dekat dengan Tuhan itu dapat mengambil bentuk ittihad (………), bersatu dengan Tuhan.
Tasawuf merupakan suatu ilmu pengetahuan dan sebagai ilmu pengetahuan, tasawuf atau sufisme mempelajari cara dan jalan bagaimana seorang Islam dapat berada sedekat mungkin dengan Allah SWT.
2.      Asal Kata Sufi
Tasawuf berasal dari kata sufi. Menurut sejarah, orang yang pertama memakai kata sufi adalah orang zahid atau ascetic bernama Abu Hasyim al-Khufi di Irak (wafat tahun 150 H). Adapun mengenai asal atau etimologis kata sufi, teri- berikut selalu dikemukakan:
a.       Ahl al-suffah (……….) orang-orang yang ikut pindah dengan Nabi dari Mekkah ke Madinah, dan karena kehilangan harta, berada dalam keadaan miskin dan tak mempunyai apa-apa. Mereka tinggal di Masjid Nabi dan tidur di atas bangku batu dengan memakai pelana sebagai bantal. Pelana disebut suffah.
b.      Saf (…….) pertama. Sebagaimana dengan orang sembahyang di saf pertama mendapat kemuliaan dan pahala, demikian pula kaum sufi dimulaiakan Allah dan diberi pahala.
c.       Sufi (……..) dari ……. dan ……. yaitu suci. Seorang sufi adalah orang yang disucikan dan kaum sufi adalah orang-orang yang telah menyucikan dirinya melalui latihan berat dan lama.
d.      Sophos kata Yunani yang berarti hikmat. Orang sufi betul ada hubungannya dengan hikmat, hanya huruf s dalam sophos ditrasliterasikan ke dalam bahasa Arab menjadi س dan bukan ص, sebagai kelihatan dalam kata فلسفة dari kata philosophia. Dengan demikian seharusnya sufi ditulis dengan سوفى dan bukan صوفى.
e.       Suf (……) kain yang dibuat dari bulu atau wol. Hanya kain wol yang dipakai kaum sufi adalah wol kasar dan bukan wol halus seperti sekarang. Memakai wol kasar di waktu itu adalah symbol kesederhana dan kemiskinan. Kaum sufi sebagai golongan yang hidup sederhana dan dalam keadaan miskin, tetapi berhati suci dan mulia, menjauhi pakaian sutra dan sebagai gantinya memakai wol kasar.
Di antara kelima teori di atas, teori nomor lima lah yang banyak diterima sebagai kata asal kata sufi.
3.      Asal Usul Aliran Sufisme
Teori-teori mengenai asal timbul atau munculnya aliran ini dalam Islam juga berbeda-beda, antara lain:
  1. Pengaruh Kristen dengan paham menjauhi dunia dan hidup mengasingkan diri dalam biara-biara. Dikatakan bahwa zahid (……..) dan sufi Islam meninggalkan dunia, memilih hidup sederhana dan mengasingkan diri, adalah atas pengaruh cara hidup rahib-rahib Kristen ini. 
  2. Falsafat mistik Pythagoras yang berpendapat bahwa roh manusia bersifat kekal dan berada di dunia sebagai orang asing. Untuk memperoleh hidup senang di alam samawi, manusia harus membersihkan roh dengan meninggalkan hidup materi, yaitu zuhud (……), untuk selanjutnya berkontemplasi.
  3. Falsafat emanasi Plotinus yang mengatakan bahwa wujud ini memancar dari dzat Tuhan Yang Maha Esa. Roh berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Tetapi dengan masuknya kea lam materi, roh menjadi kotor dan untuk dapat kembali ke tempat asalnya roh harus terlebih dahulu dibersihkan. Dikatakan pula bahwa falsafat ini mempunyai pengaruh terhadap munculnya kaum zahid dan sufi dalam Islam.
  4. Ajaran Budha dengan paham nirwananya. Untuk mencapai nirwana, orang harus meninggalkan dunia dan memasuki hidup kontemplasi. Paham fana' (…….) yang terdapat dalam sufisme hampir serupa dengan paham nirwana.
  5. Ajaran-ajaran Hinduisme yang juga mendorong manusia untuk meninggalkan dunia dan mendekati Tuhan untuk mencapai kesatuan Atman dengan Brahman.
Inilah beberapa paham dan ajaran yang menurut teorinya mempengaruhi timbul dan munculnya sufisme di kalangan umat Islam.


BAB IX
JALAN UNTUK DEKAT KEPADA TUHAN

Untuk berada dekat pada Tuhan, seorang sufi harus menempuh jalan panjang yang berisi stasiun-stasiun, yang disebut maqamat. Abu Bakr Muhammad al-Kalabadi, umpamanya, memberikan dua buku al-Ta’aruf II Mazhab Ahl al-Tasawuf.  
Tobat (التوبة) – zuhud (الزهد) – sabar (الصبر) – kefakiran (الفقر) – kerendahan hati (التواضع) – takwa (التقوى) – tawakal (التوكل) – kerelaan (الرضا) – cinta (الحب) – makrifat (المعرفة).

Abu Hamid al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulum al-Din memberikan:
Tobat – sabar – kefakiran – zuhud – tawakal – cinta – makrifat – kerelaan.
Jalan yang harus dilalui seorang sufi tidaklah licin dan dapat ditempuh dengan mudah. Jalan itu sulit, dan untuk pindah dari satu stasiun ke satu stasiun yang lain, itu menghendaki usaha yang berat dan waktu yang bukan singkat. Terkadang seorang calon sufi harus bertahun-tahun tinggal dalam satu stasiun.



BAB X
AL-ZUHD DAN STASIUN-STASIUN LAIN

1.       Al-Zuhd
Stasiun yang terpending bagi seorang calon sufi ialah al-zuhd (…….) yaitu keadaan meninggalkan dunia dan hidup kebendaan. Sebelum menjadi sufi, seorang calon harus terlebih dahulu menjadi zahid, yang dalam istilah Inggris disebut ascetic. Sesudah menjadi zahid barulah ia bias meningkat menjadi sufi. Dengan demikian tiap sufi adalah zahid, tetapi sebaliknya bukanlah tiap zahid merupakan sufi.
Dalam sejarah Islam, sebelum timbulnya aliran tasawuf, terlebih dahulu muncul aliran zuhd. Alirah zuhd atau asceticism timbul pada akhir abad pertama dan p permulaan abad ke-2 Hijriyah. Aliran ini timbul sebagai reaksi terhadap hidup mewah dari khalifah dan keluarga serta pembesar-pembesar negara.
Aliran zuhud ini mulai nyata kelihatan di Kufa dan Basrah di Irak. Para zahid Kufahlah yang pertama sekali memakai wol kasar sebagai reaksi terhadap pakaian sutra yang dipakai golongan Bani Umayyah. Di Basrah sebagai kota yang tenggelam dalam kemewahan, aliran zuhd mengambil corak yang lebih ekstrem dari Kufah sehingga akhirnya meningkat kepada ajaran mistik. Zahid-zahid yang terkenal di sini ialah Hasan al-Bisri (wafat 110 H). Di Madinah muncul Jakfar al-Sadiq (wafat 148 H).
Dalam memperhatikan kemewahan hidup dan maksiat-maksiat yang dilakukan khalifah dan pembesar-pembesar, orang-orang yang zahid ini teringat pada ancaman-ancamaaan yang tersebut dalam Quran terhadap orang-orang yang patuh pada Tuhan, tak peduli pada larangan-larangan, dan tak menjalankan perintah-perintah Tuhan. Mereka teringat pada azab neraka yang digambarkan Tuhan. Mereka melarikan diri dari masyarakat mewah.
Mereka dalam pada itu teringat pula dosa-dosa mereka. Dan karena takut pada azab yang dijanjikan Tuhan itu, mereka selain dari mengasingkan diri, juga bertobat atas dosa-dosa yang mereka lalukan. Hiburan bagi mereka ialah mendekat Tuhan. Allah tak dapat didekati sebelum bertobat. Inilah sebabnya maka tobat itu menjadi stasiun pertama bagi seorang yang ingin menjadi sufi. Setelah bersih dari dosa-dosa barulah orang dapat mendekati Allah Yang Mahasuci. Kebersihan dari dosa tak dapat pula tercapai tanpa meninggalkan dunia materi, dan tanpa meninggalkan kebutuhan-kebutuhan jasmani. Inilah pula sebabnya, maka zuhd penting bagi seorang yang ingin menjadi sufi.
2.       Stasiun-Stasiun Lainnya
Di bawah ini diberikan stasiun-stasiun yang kedudukannya dalam tasawuf tidak sederajat dengan al-zuhd, al-ma’rifah, al-mahabbah, dan sebagainya.
§ Tobat (……….)
Tobat yang dimaksudkan sufi ialah tobat yang sebenar-benarnya, tobat yang tidak akan membawa kepada dosa lagi. Terkadang tobat itu tak dapat tercapai dengan sekali saja. Diceritakan bahwa seorang sufi sampai 70 kali tobat, baru ia mencapai tingkat tobat yang sebenarnya.
§ Wara' (………)
Kata ini mengandung arti menjauhi hal-hal yang tidak baik dan dalam pengertian sufi, wara’ adalah meninggalkan segala yang di dalamnya terhadap syubhat (……, keragu-raguan) tentang halalnya sesuatu.
§ Kefakiran (………)
ü  Tidak meminta lebih daripada apa yang telah ada pada diri kita.
ü  Tidak meminta rezeki kecuali hanya untuk dapat menjalankan kewajiban-kewajiban.
ü  Tidak meminta, sungguhpun tak ada pada diri kita, kalau diberi diterima. Tidak meminta tapi tidak menolak.
§ Sabar (………)
ü  Sabar dalam menjalankan perintah-perintah Allah, dalam menjauhi segala rangan-Nya dan dalam menerima segala cobaan-cobaan yang ditimpakan-Nya pada diri kita.
ü  Menunggu datangnya pertolongan dari Tuhan.
ü  Sabar menderita kesabaran. Tidak menunggu-nunggu datangnya pertolongan.
§ Tawakal (……….)
ü  Menyerah kepada qada' dan putusan dari Allah.
ü  Selamanya berada dalam keadaan tenteram.
ü  Tidak memikirkan hari esok, cukup dengan apa yang ada untuk hari ini.
ü  Tidak mau makan, karena ada orang lebih berhajat pada makanan darinya.
ü  Percaya kepada janji Allah.
ü  Menyerah kepada Allah, dengan Allah, dan karena Allah.
ü  Bersikap sebagai telah mati.
§ Kerelaan (………)
ü  Tidak berusaha.
ü  Tidak menentang qada' dan qadar Tuhan.
ü  Menerima qada' dan qadar dengan senang hati.
ü  Mengeluarkan perasaan benci dari hati sehingga yang tinggal di dalamnya hanya perasaan senang dan gembira.
ü  Merasa senang menerima malapetaka sebagaimana merasa senang menerima nikmat.
ü  Tidak meminta surga dari Allah dan tidak meminta supaya dijauhkan dari neraka.
ü  Tidak berusaha sebelum turunnya qada' dan qadar, malahan perasaan cinta bergelora (……….)  di waktu turunnya bala' (cobaan-cobaan).



BAB XI
AL-MAHABBAH

Mahabbah (المحبة) adalah cinta, dan yang dimaksud ialah cinta kepada Tuhan. Pengertian yang diberikan kepada mahabbah antara lain adalah yang berikut:
1.      Memeluk kepatuhan pada Tuhan dan membenci sikap melawan pada-Nya.
2.      Menyerahkan selurh diri kepada yang dikasihi.
3.      Mengosongkan hati dari segala-galanya kecuali dari sisi yang dikasihi. Yang dimaksud dengan yang dikasihi di sini ialah Tuhan.
Menurut al-Sarraj, mahabbah mempunyai tiga tingkat:
1.      Cinta biasa, yaitu selalu mengingat Tuhan dengan dzikir, suka menyebut nama-nama Allah, dan memperoleh kesenangan dalam berdialog dengan Tuhan.
2.      Cinta orang yang siddiq (……..), yaitu orang yang kenal kepada Tuhan, pada kebesaran-Nya, pada kekuasaan-Nya, pada ilmu-Nya dan lain-lain. Ia mengadakan dialog dengan Tuhan dan memperoleh kesenangan dari dialog itu. Cinta tingkat kedua ini membuat orangnya sanggup menghilangkan kehendak dan sifat-sifatnya sendiri, sedangkan hatinya penuh dengan perasaan cinta pada Tuhan dan selalu rindu pada-Nya.
3.      Cinta orang yang ‘arif (……..), yaitu orang yang tahu betul pada Tuhan. Cinta seperti ini timbul karena telah tahu betul-betul pada Tuhan. Cinta seperti ini timbul karena telah tahu betul-betul pada Tuhan. Yang dilihat dan dirasa bukan lagi cinta, tetapi diri yang dicinta. Akhirnya sifat-sifat yang dicinta masuk ke dalam diri yang mencintai.
Sufi yang termasyhur dalam mahabba ialah Rabi’ah al-Adawiah (713-801 H) dari Basrah di Irak. Menurut riwayatnya ia adalah seorang hamba yang kemudian dibebaskan. Dalam hidup selanjutnya ia banyak beribadat, bertobat dan menjauhi hidup duniawi. Ia hidup dalam kemiskinan dan menolak segala bantuan materi yang diberikan orang kepadanya. Bahkan dalam doanya ia tak mau meminta hal-hal yang bersifat materi dari Tuhan. Ia betul-betul hidup dalam keadaan zuhd dan hanya ingin berada dekat pada Tuhan.
Di antara ucapan-ucapannya adalaah yang berikut:
"Aku mengabdi kepada Tuhan bukan karena takut kepada neraka…. bukan pula karena ingin masuk surga….. tetapi aku mengabdi karena cintaku kepada-Nya."
"Tuhanku, jika kupuja Engkau karena takut kepada neraka, bakarlah aku di dalamnya; dan jika kupuja Engkau karena mengharaapkan surga, jauhkanlah aku darinya; tetapi jika Engkau kupuja semata-mata karenaa Engkau, maka janganlah sembunyikan kecantikan-Mu yang kekal itu dari diriku."
Inilah beberapa ucapan rasa cinta yang diungkapkan oleh Rabiah al-Adawiah. Cinta kepada Tuhan begitu memenuhi seluruh jiwanya sehingga ia menolak semua tawaran kawin, dengan alasan bahwa dirinya adalah milik Tuhan, dan siapa yang ingin kawin dengan dia haruslah meminta izin dari allah. Demikianlah gambaran tetntang stasiun mahabbah yang dilahirkan oleh seorang sufi dari rasa cintanya terhadap Tuhan


BAB XII
AL-MA’RIFAH

Sebagaimana halnya dengan mahabbah (……..), ma’rifah (……..) juga terkadang dipandang sebagai maqam dan terkadang sebagai hal (….). Dalam istilah Barat, ma’rifah ialah genosis. Ada yang berpendapat bahwa ma’rifat dan mahabbah merupakan kembar dua yang selalu disebut bersama. Keduanya menggambarkan keadaan dekatnya hubungan seorang sufi dengan Tuhan. Dengan kata lain mahabbah dan ma’rifah menggambarkan dua aspek dari hubungan rapat yang ada antara seorang sufi dena Tuhan. Mahabbah menggambarkan hubungan rapt dalam bentuk cinta, dan ma’rifah menggambarkan hubungan rapat dalam bentuk gnosis, pengetahuan dengan hati sanubari.
Dari literatur yang diberikan tentang ma’rifah, ma’rifah berarti mengenai Tuhan dari dekat, sehingga hati sanubari dapat melihat Tuhan. Oleh karena itu orang-orang sufi mengatakan:
1.      Kalau mata yang terdapat dalam hati sanubari manusia terbuka, mata kepalanya akan tertutup, dan di ketika itu yang dilihatnya hanya Allah.
2.      Ma’rifah adalah cermin, kalau seorang ‘arif melihat ke cermin itu yang akan dilihatnya hanyalah Allah.
3.      Yang dilihat orang ‘arif baik sewaktu tidur maupun sewaktu bangun hanya Allah.
4.      Sekiranya ma’rifah mengambil bentuk materi, semu orang yang melihat padanya akan mati.
Dalam tasawuf Zunnun al-Misri-lah (wafat 860 M) yang dipandang sebagai bapak paham ma’rifah.
Menurut Zunnun ada tiga macam pengetahuan tentang Tuhan:
1.      Pengetahuan awam; Tuhan satu dengan peraturan ucapan syahadat.
2.      Pengetahuan ulama; Tuhan satu menurut logika akal.
3.      Pengetahuan sufi; Tuhan satu dengan perantara hati sanubari.
Pengetahuan dalam arti satu dan dua belum merupakan pengetahuan hakiki tentang Tuhan. Keduanya disebut ilmu (…….) bukan ma’rifah. Pengetahuan dalam arti ketigalah yang merupakan pengetahuan hakiki tentang Tuhan dan pengetahuan ini disebut ma’rifah. Ma’rifah hanya terdapat pada kaum sufi. Ma'rifah bukanlah hasil pemikiran manusia tetapi bergantung kepada kehendak dan rahmat Tuhan. Ma'rifah adalah pemberian Tuhan kepada sufi yang sanggup menerimanya.
Alat untuk memperoleh ma’rifah, oleh kaum sufi disebut sir (سر). Menurut al-Qusyairi ada tiga alat dalam tubuh manusia yang dipergunakan sufi dalam hubungan mereka dengan Tuhan. Qalb (قلب) untuk mengetahui sifat-sifat Tuhan, ruh (روح) untuk mencintai Tuhan, dan sir untuk melihat Tuhan. Kelihatannya sir bertempat di ruh dan ruh bertempat di qalb dan sir timbul dan dapat menerima iluminasi dari Allah kalau qalb dan ruh telah suci sesuci-sucinya dan kosong sekosong-kosongnya, tidak berisi apapun.
Bagi al-Ghazali, ma’rifah ialah mengetahui rahasia Allah dan mengetahui peraturan-peraturan Tuhan tentang segala yang ada. Tetapi bagi al-Ghazali, ma’rifah terlebih dahulu dalam tertib daripada mahabbah, karena mahabbah timbul dari ma’rifah. Menurut al-Ghazali, ma’rifah dan mahabbah inilah setinggi-tinggi tingkat yang dapat dicapai seorang sufi. Dan pengetahuan yang diperoleh dari ma’rifah lebih tinggi mutunya daripada pengetahuan yang diperoleh dengan akal.



BAB XIII
AL-FANA DAN AL-BAQA


Sebelum seorang sufi dapat bersatu dengan Tuhan, ia harus terlebih dahulu menghancurkan dirinya. Selama ia belum dapat menghancurkan dirinya, yaitu selama ia masih sadar akan dirinya, ia tak akan dapat bersatu dengan Tuhan. Penghancuran diri ini dalam tasawuf disebut fana (………. = hilang, hancur: disappear, perish, annihilate). Penghancuran dalam istilah sufi senantiasa diiringi oleh baqa' (………. = tetap, harus hidup: to remain, persevere). Fana' dan baqa’ merupakan kembar dua. Fana' yang dicari orang sufi ialah penghancuran diri yaitu al-fana ‘an al-nafs. Ialah hancurnya perasaan atau kesadaran tentang adanya tubuh kasar manusia.
Kalau seorang sufi telah mencapai al-fana ‘an al-nafs yaitu kalau wujud jasmaninya tak ada lagi (dalam arti tak disadarinya lagi) maka yang akan tinggal ialah wujuh rohaninya dan di ketika itu dapatlah ia bersatu dengan Tuhan. Dengan hancurnya hal-hal ini yang langsung tinggal ialah pengetahuan, takwa dan kelakuan baik.



BAB XIV
AL-ITTIHAD

Yang dimaksud dengan ittihad kelihatannya ialah satu tingkatan dalam tasawuf di mana seorang sufi telah merasa dirinya bersatu dengan Tuhan; suatu tingkatan di mana yang mencintai dan yang dicintai telah menjadi satu, sehingga salah satu dari mereka dapat memanggil yang satu lagi dengan kata-kata: Hai aku. Dalam ittihad, kata A.R. al-Badawi yang dilihat hanya satu wujud, sunggupuh sebenarnya ada dua wujud yang terpisah satu dari yang lain. karena yang dilihat dan dirasakan hanya satu wujud, maka dalam ittihad bisa terjadi pertukaran peranan antara yang mencintai dan yang dicintai atau tegasnya antara sufi dantuhan.
Dengan fana Abu Yazid meninggalkan dirinya dan pergi ke hadirat Tuhan. Bahwa ia telah berada dekat pada Tuhan, itu dapat dilihat dari syatahat (Theopathical stammerings) yang diucpakannya. Syatahat adalah ucapan-ucapan yang dikeluarkan seorang sufi ketika ia mulai berada di pintu gerbang ittihad. Ucapan-ucapan yang demikian belum pernah di dengar dari sufi sebelum Abu Yazid, umpamanya:

…………………………………………………………..

 “Aku tidak heran terhadap cintaku pada-Mu
Karena aku hanyalah hamba yang hina
Tetapi aku heran terhadap cinta-Mu padaku
Karena Engkau adalah Raja Maha Kuasa”.
Kata-kata seperti di atas, bukan diucapkan oleh Abu yazid sebagai kata-katanya sendiri tetapi kata-kata itu diucapkannya melalui diri Tuhan dala ittihad yang dicapainya dengan Tuhan. Dengan kata lain, Abu Yazid tidaklah mengaku dirinya Tuhan. Bagi orang yang bersikap toleran ittihad dipandang hanya sebagai “penyelewengan”, tetapi bagi orang yang keras berpegang pada agama, itu dipandang sebagai kekufuran. Paham ittihad selanjutnya dapat mengambil bentuk hulul atau wahdat al-wujud (……….).


BAB XV
AL-HULUL

Paham hulul (الحلول) dalam tasawuf ditimbulkan oleh Husain ibnu Mansur al-Hallaj yang lahir di Persia di tahun 858 M dan kemudian menetap di Baghdad. Di tahun 922, ia di hukum bunuh. Tuduhan-tuduhan yang dihadapkan kepadanya:
1.      Ia mempunyai hubungan dengan gerakan Qaramitah (……….., Carmatians) satu sekte Syi'ah yang dibentuk oleh Hamdan ibnu Qarmat di akhir abad ke-9 M. Sekte ini mempunyai paham komunis.
2.      Keyakinan para pengikutnya bahwa ia mempunyai sifat ketuhanan. Pengikutnya di kalangan rakyat jelata besar.
3.      Ucapannya Ana al-Haq (………, Akulah Yang Mahabenar).
4.      Ibadah haji tidak wajib.
Hulul menurut keterangan Abu Nasr al-Tusi’ dalam al-Luma’ ialah paham yang mengatakan bahwa Tuhan memilih tubuh-tubuh manusia tertentu untuk mengambil tempat di dalamnya, setelah sifat-sifat kemanusiaan yang ad dalam tubuh itu dilenyapkan. Menurut al-Hallaj, Allah kelihatannya mempunyai dua nature atau sifat dasar: ketuhanan, lahut (……..) dan kemanusiaan, nasut (…….). Ini dapat dilihat dari teorinya mengenai kejadian makhluk dalam bukunya berjudul at-Tawasin (………) .
Kesimpulan dari pendapat al-Hallaj, “dalam diri manusia terdapat sifat ketuhanan dan dalam diri Tuhan, terdapat sifat kemanusiaan. Dengan demikian persatuan antara Tuhan dan manusia bisa terjadi, dan persatuan ini adalah falsafah al-Hallaj mengambil bentuk hulul (mengambil tempat). Dan agar dapat bersatu itu, manusia harus terlebih dahulu menghilangkan sifat-sifat kemanusiaannya dengan fana’.



BAB XVI
WAHDAT AL-WUJUD

Wahdat al-wujud (وحدة الوجود) berarti kesatuan wujud, unity of existence. Paham ini adalah lanjutan dari paham hulul, dan dibawa oleh Muhi al-Din ibnu al-Arabi yang lahir di Murcia, Spanyol di tahun 1154 M.
Dalam paham wahdat al-wujud, nasut yang ada dalam hulul diubah oleh ibnu al-Arabi menjadi khalq (makhluk) dan lahut menjadi haq (Tuhan). Khalq dan haq adalah dua aspek bagi tiap sesuatu. Aspek yang sebelah luar disebut khalq dan aspek yang sebelah dalam disebut haq.
Menurut paham ini, tiap-tiap yang ada mempunyai dua aspek. Aspek luar, yang merupakan ‘ard dan khalq yang mempunyai sifat kemakhlukan; dan aspek dalam yang merupakan jauhar dan haq yang mempunyai sifat ketuhanan.
Nicholson berkata bahwa aspek haq yang merupakan batin jauhar atau substance dan essence atau hakikat dari tiap-tiap yang berwujud. Aspek haq yang hanya merupakan ‘ard atau accident, sesuatu yang mendatang.
Parmenides berkata: "Yang ada itu satu, Yang banyak itu tak ada. Yang kelihatan banyak dengan panca indera adalah ilusi."
Dalam bentuk lain penjelasan filsafat ini dapat diberikan sebagai berikut:
Makhluk dijadikan dan wujudnya bergantung pada wujud Tuhan, sebagai sebab dari segala yang berwujud selain Tuhan. Yang berwujud selain Tuhan tak akan mempunyai wujud hakiki. Yang dijadikan hanya mempunyai wujud yang bergantung pada wujud di luar dirinya yaitu Tuhan. Dengan demikian yang mempunyai wujud sebenarnya hanyalah Tuhan dan wujud yang dijadikan ini pada hakikatnya bergantung pada wujud Tuhan. Yang dijadikan sebenarnya tidak mempunyai wujud. Yang mempunyai wujud sebenarnya hanyalah Allah. dengan demikian hanya ada satu wujud, wujud Tuhan.
Yang sebenarnya mempunyai wujud hanyalah satu, yaitu Tuhan. Wujud selain dari Tuhan adalah wujud bayangan. (Kata Ibnu al-Arabi).

No comments:

Post a Comment